Mengenang Kartini (bagian pertama)


RA KartiniApril ini saya coba membayangkan Kartini sedang asyik membaca Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem, sepucuk sajak Joko Pinurbo di kumpulan puisinya, Celana. Salah satu bagian sajak itu berbunyi: …Kaudengarkah suara gamelan/ tak putus-putusnya dilantunkan/ di pendapa agung yang dijaga/ tiang-tiang perkasa/ hanya untuk mengalunkan/ tembang-tembang lara?

Saat membaca bait itu, saya membayangkan Kartini sedang bersandar di kursi goyang berukir indah. Matanya mungkin langsung memejam. Tapi ingatannya melanglang pergi, menyambangi bertumpuk kenangan yang telah jauh. Tumpukan kenangan dari kesilaman yang dikenangnya dengan perih: saat ia dipingit pada usia menginjak dua belas tahun.

Lewat sepucuk surat untuk nona Zeehandelaar, Kartini mengisahkan kenangannya saat menjalani masa “tutupan” alias pingitan itu. “Saya dikurung di dalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar…. Betapa saya dapat menahan kehidupan yang demikian, tiadalah saya tahu. Hanya yang saya tahu, masa itu amat sengsaranya,” tulisnya di surat bertanggal 25 Mei 1899.

Saat itu, cuma tetabuhan gamelan yang menjadi hiburannya. Dan bagi seorang yang sedang menanggung siksa dan lara, alunan gamelan itu kedengaran bukan seperti suara dari tembaga, kayu atau kulit kendang, melainkan lebih terasa sebagai suara yang keluar dari sukma manusia, meresap ke dalam hati, kadang berujud keluh-kesah, sebentar lagi meratap-menangis, sekali-kali seperti gelak tawa. Saya kira, itulah sebabnya kenapa Kartini pernah menyebut alunan suara gamelan sebagai “bunyi jelita yang sedih”.

Tapi Kartini memang tidak menyerah. Semampunya ia menampik dan melawan semua-mua penindasan yang ditimpakan padanya, baik yang mengatasnamakan tradisi, agama, atau apapun. Dalam perlawanan sebisanya itu, Kartini kerap menuai hasil bagus. Tetapi kita juga tahu, pada akhirnya ia tak kuasa mengatasi belitan hambatan dan kesukaran yang mengepungnya. Inilah yang jarang dimengerti: kehidupan Kartini sebenarnya adalah kehidupan yang penuh paradoks; kehidupan di mana kegagalan dan kesuksesan datang hilir mudik.

Tentang perkawinan, misalnya. Dengan telengas ia pernah menulis begini, “Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas!” Kartini paham benar bagaimana rasanya kawin paksa dan dimadu karena ia adalah putri seorang perempuan yang menjadi istri kesekian Bupati Jepara. Dan ia percaya betul, kalau “…adat Timur lama itu benar kukuh dan kuat, tetapi dapat juga rasanya saya lebur, saya patahkan!”

Tapi apa mau dibilang, sekalipun ia yakin segala peradatan itu bisa dipatahkan, Kartini pada akhirnya harus menerima takdir menjadi istri kesekian Raden Adipati Djaja Adiningrat, Bupati Rembang. Akibat perkawinan itu, Kartini terpaksa harus pula menelan pil pahit: gagal pergi belajar ke Eropa. Padahal, ia pernah berkata, “Pergi ke Eropa! Sampai napasku yang penghabisan akan tetap jadi cita-citaku”. Tapi, ketika kesempatan itu terpampang lebar, perkawinan yang tak diinginkannya itu datang tanpa bisa ditenggang.

Advertisements

4 thoughts on “Mengenang Kartini (bagian pertama)

  1. Pingback: sofyanr.com » Blog Archive » Mengenang Kartini II

  2. Pingback: Mengenang Kartini (bagian kedua) | www.sofyanr.com

  3. Pingback: Mengenang Kartini Lagi | Bukan Blogger

  4. Pingback: Ratapan Raden Ajeng Kartini « M Shodiq Mustika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s