Dari Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem


Selamat hari Kartini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya selalu menyempatkan diri update blog saat tanggal 21 April. Beberapa postingan saya sebelumnya tentang kartini bisa ditemukan di SINI dan di SINI. Kali ini saya hanya ingin update blog ini dengan sebuah puisi karya Joko Pinurbo tentang Kartini. Mau tahu puisinya? Silakan baca kutipan puisi berikut baik-baik
Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem

untuk Linus Suryadi AG

Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk

di bawah cahaya lampu remang-remang.

Demam mulai merambat ke leher,

encok menyayat-nyayat punggung dan pinggang.

Dan angin pantai Jepara yang kering

berjingkat pelan di alis yang tenang;

di pelupuknya anak-anak kesunyian

ingin lelap berbaring, ingin teduh dan tenteram.

“Terimalah salam damaiku

lewat angin laut yang kencang, dinda.

Resah tengah kucoba.

Sepi kuasah dengan pena.

Kaudengarkah suara gamelan

tak putus-putusnya dilantunkan

di pendapa agung yang dijaga

tiang-tiang perkasa

hanya untuk mengalunkan

tembang-tembang lara?

Kaudengarkah juga

derap kereta di jauhan

datang melaju ke arah jantungku.”

Kereta api hitam berderap membelah malam,

melintasi hamparan kelabu perkebunan tebu.

Kesedihan diangkut ke pabrik-pabrik gula,

di belakangnya perempuan-perempuan pemberani

berduyun-duyun mengusung matahari.

“Perahu-perahu kembara, dinda,

telah kulepas dari pantai Jepara.

Berlayarlah tahun-tahunku, mimpi-mimpiku

ke gugusan hijau pulau-pulau Nusantara.

Berlayarlah ke negeri-negeri jauh,

ke Nederland sana.

Seperti kukatakan pada Ny. Abendanon

dan Stella: ingin rasanya aku

menembus gerbang cakrawala.”

Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk

di bawah cahaya lampu remang-remang.

Tangan masih menyurat di atas kertas.

Hati melemas pada berkas-berkas cemas.

Angin merambat lewat kain dan kebaya.

Dingin merayap hingga sanggulnya.

Dan anak-anak kesunyian bergelayutan

pada bulu matanya yang sayup,

yang mengungkai cahaya redup.

“Sering kubayangkan, dinda,

perempuan-perempuan perkasa

berbondong-bondong menyunggi matahari,

menggendong bukit-bukit tandus

di gugusan pegunungan seribu

menuju hingar-bingar pasar palawija

di keheningan langit Jogja.

Kubayangkan pula

ladang-ladang karang

dirambah, disiangi

kaki-kaki telanjang

dengan darah sepanjang zaman.”

Kereta api hitan berderap membelah malam,

membangunkan si lelap dari tidur panjang.

Jari masih menulis bersama gerimis,

bersama angin dan kenangan.

Di telapak tangannya perahu-perahu dilayarkan

ke daratan-daratan hijau, negeri-negeri jauh

tak terjangkau.

“Badai, dinda,

badai menyerbu ke atas ranjang.

Kaudengarkah kini biduk mimpiku

sebentar lagi karam

di laut Rembang?”

Raden Ajeng Kartini terkantuk-kantuk

di bawah cahaya lampu remang-remang.

Demam membara, encok meruyak pula.

Dan sepasang alap-alap melesat

dari ujung pena yang luka.

(1997)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s