Nama


Untuk keponakanku yang baru saja diberi nama

ORANG memanggil aku: Minke. Namaku sendiri….Sementara ini tak perlu kusebutkan. Bukan karena gila mysteri. Telah aku timbang: belum perlu benar tampilkan diri di hadapan mata orang lain.

Itulah pembuka kisah luar biasa dalam novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Dan, Anda pasti sepakat, nama memang layak disembunyikan ketika ia belum benar-benar bisa menjadi penanda sejati bagi orang-orang yang memiliki harkat dan martabat.


Nama, dengan demikian, memang bukan topeng. Ia adalah tanda yang mewakili semesta persoalan yang kompleks. Karena itu, jangan heran jika pekerjaan pertama yang dibebankan Tuhan kepada Adam adalah memberi nama kepada segala fenomena. Jangan kaget pula jika manusia perlu memberikan 99 nama yang berkaitan dengan sifat Tuhan.

Aha, memberi nama memang bukan hanya pekerjaan Adam atau siapa pun yang percaya kepada tanda dan makna. Orang-orang Macondo -daerah imajinatif dalam novel Gabriel Garcia Marquez, Seratus Tahun Kesunyian atau Cien Anos de Soledad – pun harus memberikan nama kepada segala benda yang bertabrakan di mata, rasa, dan jiwa.

Pada waktu itu, tulis Marquez, dunia terlihat begitu muda sehingga banyak benda belum bernama, dan untuk menyatakan benda-benda itu kita harus menunjuknya. Ah, bagaimana kita hendak menunjuk benda-benda di balik bumi dan langit? Bagaimana kita harus menyebutkan nama-nama benda yang tak bisa dipandang oleh keindahan mata manusia? Karena itu, nama akhirnya memang harus melekat kepada apa pun yang berelasi dengan kehidupan manusia. Sebab, bukankah hanya manusia yang sibuk berelasi dengan tanda, penanda, petanda, ikon, indeks, identitas, dan segala yang harus mereka tafsirkan?

Lalu, bagaimana nasib orang Macondo ketika gagap berelasi dengan nama-nama? Beberapa tahun kemudian mereka hilang ingatan setelah terserang wabah insomnia. Hanya seorang yang benar-benar selamat, dan dialah yang menulis benda-benda dengan namanya masing-masing: meja, kursi, jam, dinding, ranjang, sapi, kambing, babi, ayam. Kemudian pada jalan utama desa, setelah ingatan mereka mulai pulih, mereka memasang papan dengan tulisan besar-besar ”Tuhan Masih Ada”.

Saya tidak tahu apakah di Jawa ada orang-orang yang menghubungkan keberadaan jeneng dengan eksistensi Tuhan. Yang jelas dalam sebuah kuliah, Dr Damardjati Supadjar pernah bilang, ” Jeneng kuwi ora gur tetenger, naging uga donga.” Ya, nama itu bukan sekadar tanda, namun juga doa.

Adakah eksistensi Tuhan dalam nama-nama orang Jawa? Mungkin ada. Ketika X, tetangga saya melaksanakan ibadah haji di tanah suci beberapa tahun lalu, seorang pedagang di Mina, memberikannya nama: Musa. Si X gemetar mendapatkan nama yang identik dengan ketaatan dan kedigdayaan seorang nabi yang pernah membelah Laut Merah itu. Hingga sekarang, X tak berani menggunakan nama itu, sebab ia takut. “Saya hanya zarah, sekadar debu”, katanya suatu ketika.

Sebab, kata penduduk sekampung, Y, kakak perempuannya, sakit keras hanya lantaran semula bernama Marsini. Adiknya, Z, lumpuh dan hampir mati, hanya lantaran semula bernama Trimo. Kini kedua saudaranya sehat dan hidup sejahtera. ”Ah, itu kan takhayul!” teriak para rasionalis sejati.

Ya, mungkin X dan sebagian besar masyarakat Jawa tak rasional. ”Mungkin dia takut menggunakan nama Musa karena ada tokoh PKI bernama Muso,” ujar seorang teman seraya menunjukkan beberapa data betapa setelah Orde Baru berjaya nama Aidit tidak laku lagi bagi masyarakat Jawa. Wah, nama pun akhirnya berkaitan juga dengan dunia politik.

Nama, dalam tradisi Jawa rupa-rupanya harus Pas dengan strata sosial. Pas dengan doa yang diharapkan bakal terwujud. Itu pun tak boleh berlebihan. Namun, anehnya, saya pernah mendapatkan petuah dari almarhum Simbah Kakung yang justru bertolak belakang dari premis kebanyakan wong Jawa terhadap nama.

Kata orang tua, ”Yen pingin mburu jenang, aja ngoyak jeneng. Yen pingin ngoyak jeneng, aja mburu jenang. Yen pingin cedhak jeneng, suwungna murka. Yen pingin cedhak Gusti Allah, suwungna jeneng.”

Dalam Bahasa Indonesia, menurut pemahaman saya, artinya kira-kira seperti ini. Jika ingin mengejar kekayaan, jangan mengejar nama baik. Jika ingin mengejar nama baik, jangan mengejar kekayaan. Jika ingin dekat dengan ketenaran, hilangkan keserakahan. Jika ingin dekat dengan Tuhan, hilangkan ke-Aku-an.

Apakah di hadapan Tuhan, semua nama tak berguna? “Whats in a name” kata pujangga Inggris William Shakespeare. Apakah di hadapan Tuhan kita harus jadi big zero. Apakah Tuhan tak menghendaki nama-nama ketakaburan indah yang kita sangka sebagai doa dan pengharapan itu? Saya takut menjawabnya.

Advertisements

One thought on “Nama

  1. Pingback: Jake

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s