Romeo-Juliet, Sex Pistols dan Rambut Spiky


Judul Buku : THE PUNK #1 PUNK NOVEL
Penulis : Gideon Sams
Penerjemah : Ade Ma’ruf
Penerbit : Alinea, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2004
Tebal : XV +58

Jika ada anggapan yang mengatakan bahwa anak-anak punk sebagai bocah yang melulu urakan, liar dan jauh dengan apa yang namanya cinta dan kesetiaan, bacalah risalah The Punk. Di sana akan kita dapati secuplik kisah cinta dari sepasang pemuda punk yang harus tewas demi kekukuhan sebuah cinta. Berkorban nyawa demi sebuah kesetaiaan.


Adolph Spitz dan Thelma, adalah dua pemuda yang sama-sama menjalani kehidupan punk sedalam-dalamnya. Menindik kuping dan hidung, mabuk, berkelahi, hobi mendengar gebukan drum dan lengkingan gitar Sex Pistol, dan abai pada masa depan, adalah jalan hidup yang sudah mereka pilih.

Keberanian Thelma untuk meninggalkan pacar lamanya bernama Ned, pemimpin punk aliran teddy dan lebih memilih Adolph sebagai kekasihnya, membuat akhir dari percintaan mereka berakhir tragis.

Kecemburuan Ned terhadap Adolph membuahkan kebencian yang amat dalam. Pada sebuah malam sehabis konser punk, Ned membuntuti Adolph dan bermaksud untuk menghabisi nyawanya dengan pisau yang telah disiapkan. Di sudut gang, diantara belantara beton dan dini hari yang amat sunyi, Ned meneriaki Adolph, “Oi, kamu”

Adolph membalikkan badan dan bertanya pada orang yang baru memanggil namanya itu, “Oi, apa maumu?”

Ned berkoar,”Aku ingin kau, bocah spiky. Dan kau tahu kenapa. Kau habis main dengan pacarku, kan?”

Dengan lantang Adolph pun menjawab,”Ia bukan milikmu lagi, ia sudah nggak mau mengenalmu. Ia menginginkanku, jadi nggak ada cara yang bisa membuiatnya kembali padamu.”

Mendengar jawaban itu Ned naik pitam. Perkelahian pun tak terelakkan. Dengan kelincahan yang dimiliki, Adolph berhasil mengelak dari serangan pisau Ned dan berbalik menyeranggnya.

Perkelahian itu pun berakhir. Adolph berhasil menancapkan pisau yang dibawa Ned ke perut pemimpin Teddy itu. Tanpa pikir panjang, Adolph segera meninggalkan tubuh Ned yang sudah kejang-kejang dan banyak mengucurkan darah di atas aspal yang hitam.

Keesokan harinya, kematian Ned tersebar lewat berita yang termuat di surat kabar. Mengetahui pemimpin tewas, anak-anak teddy bersiap untuk balas dendam pada Adolph. Pada sebuah malam di trotoar jalan, secara tak sengaja anak-anak teddy mendapati Adolph sedang jalan bersama Thelma.

Perkelahian jalanan pun tak terhindarkan. Novel yang dikisahkan oleh Gideon Sams itu pun berakhir ketika anak-anak teddy berhasil menghabisi nyawa Adolph dan Thelma, sebelum suara sirine polisi lamat-lamat mendekat ke tempat kejadian.

Demikian akhir tragis dari kisah novel The Punk yang disebut sebagai novel punk pertama itu. Tak ayal, novel ini mendapat perhatian tersendiri oleh komunitas pemuda punk di Inggris pada tahun 1970-an. Bahkan sebagian dari mereka, kisah romantis itu mereka sebut-sebut sebagai kisah yang layak disandingkan dengan roman Romeo dan Juliet dari karya William Shakepeare yang amat mahsyur itu.

Novel ini juga membelalakkan mata kita tentang sisi lain anak punk, komunitas yang selalu dilabelkan sebagai kalangan sampah itu. Bahwa disebalik pelbagai pelabelan negatif terhadap anak-anak punk, mereka ternyata juga manusia sewajarnya yang bisa memahami arti cinta dan kesetiaan.

Namun mengapa mereka (anak-anak punk) lebih memilih hidup ala jalanan yang keras? Bukankah dengan tinggal di rumah dengan cinta dari orang tuanya, nonton TV, baca komik, main gitar dan sedikit membantu kerjaan orang tua hidup mereka terasa lebih nyaman? Jawaban dari pertanyaan inilah yang baiknya kita cari untuk bisa memahami lebih jauh sisi lain anak-anak punk!

Akar Gerakan Punk

Sebagaimana pengantar novel ini, musik punk orisinal berkembang sebagaimana karier bintang yang menyertainya—melesat sebentar lalu jatuh. Namun kita juga bisa melihat bahwa punk memang hadir dengan gaungnya sendiri, termasuk legenda-legenda yang menyertainya.

Bahkan raja musik Rock and Roll semacam Elvis, bagi sebagian orang dianggap sebagai seorang punk. Tiap-tiap generasi memang mempunyai gayanya sendiri, mereka berusaha menentang tatanan mapan yang telah ada.

Tapi seperti yang kita ketahui bahwa punk mulai tumbuh pada awal 1970-an. Band-band seperti The Fugs, MC5, dan The Stroges termasuk yang menebarkan benih pertama. Namun band-band pertama yang menunjukkan sikap dan gaya punk adalah New York Dolls dan Television yang muncul dari lingkungan kecil punk di New York. Keanehan dari band-band tersebut sudah terlihat di masa ini, seperti penghormatan ala Nazi dan rambut potongan spiky.

Namun band-band tersebut masih berada di underground scene, hingga tahun 1976, ketika The Remones dan Sex Pistols menghentak panggung musik dunia. Sejak saat itu musik punk dan para penggemarnya punk muali mewaranai musik dunia dengan keanehan dan coraknya sendiri. Arus punk tersebut kini masih dijadikkan aliran musik band-band musik kontemporer dunia semisal Green Day, Rancid, Blink 182, Sum 41 dan sebagainya.

Advertisements

One thought on “Romeo-Juliet, Sex Pistols dan Rambut Spiky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s