Mengenal Che Bukan Cuma Dari Oblong


Judul Buku : Che Untuk Pemula
Penulis : Sergio Sinay
Ilustrator : Agung Arif Budiman
Penerbit : Insist Press, Yogyakarta
Cetakan : II, Januari 2004
Tebal : 178 halaman

Moncong senapan serdadu Bolivia itu tak lebih sekilan jaraknya dari dahi lelaki itu. Sekali pelatuk ditarik, pastilah kepalanya tertembus peluru, dan ia akan segera meregang nyawa. Tetapi, lelaki itu buru-buru berkata,”Jangan tembak… aku Che. Aku lebih berharga bagimu, jika aku hidup daripada mati…” Itu adalah penggalan cerita detik-detik penangkapan Che Guevara, yang diilustrasikan dengan memikat di awal buku berbentuk komik ini.

Che Guevara, sosok pejuang pemberontak asal Argentina yang telah melegenda, itu memang begitu berharga, hidup atau mati. Pemerintah Bolivia kala itu (1967), menjanjikan lima ribu dollar untuk kepala Che. Tetapi, bukan karena itu, ilustrasi ending cerita perjuangan Che Guevara diletakkan pada bagian awal buku ini. Mungkin itu sekadar intro, betapa proses kematian Che Guevara, hingga kini, masih menjadi sejuta tanya bagi semua (tentu tidak bagi pelaku penembaknya). Atau, memang beginilah pantasnya cara komik berkisah: alur yang paling seru, perang lantas penangkapan, ditampilkan di muka demi memikat pembaca. Yang pasti, setelah itu, kronologi cerita buku ini menjadi berarti, terutama bagi kita yang sekadar tahu tentang Che Guevara dari oblong atau topi a la Che, yang acap dikenakan anak muda masa kini.

Dalam buku ini, Che digambarkan sebagai seorang pemuda gerilyawan yang patriotik dan heroik. Alasan atas apa yang dilakukannya ialah demi satu kata: kebebasan. Kebebasan rakyat dari jerat diktator penguasa dan kemiskinan di Amerika Latin. Ya, penguasa diktator yang datang silih-berganti serta problem kemiskinan memang selalu mewarnai daratan yang menjadi backyard negeri Paman Sam itu. Dalam konteks seperti inilah, sosok Che dalam buku ini kian hidup.

Lebih dari itu, kehidupan dalam keluarga Che juga turut menghidupkan semangat heroismenya. Che terlahir dari keluarga kelas menengah yang bersikap oposan terhadap Peron, diktator populis yang memimpin Argentina masa itu. Sang ayah pun berkata pada Che kecil serta adik-adiknya, “Anak-anak, hidup ini penuh dengan misteri dan bahaya. Hal yang paling penting dari semuanya adalah kebebasan. Jangan pernah menyerahkan itu. Dan untuk mempertahankannya, kalian nanti harus mengorbankan banyak hal. Tapi, jika kalian kehilangan kebebasan maka hidup kalian akan penuh dengan penderitaan…” (hal. 23).

Maka sosok muda Che kian mempesona dengan kegemarannya berkelana di seantero Amerika Latin. Pengelanaan itu menyibak kesadaran hatinya tentang pelbagai persoalan kemanusiaan di benua temuan Colombus itu. Soal kemiskinan, soal ketertindasan. Guatemala, sebuah negeri di Selatan Meksiko adalah negeri di mana kali pertama seorang asing Che, terlibat dalam sebuah gerakan revolusioner menentang penguasa. Sejak itu, namanya kian tenar, hingga membawanya pada perjumpaan yang menyenangkan dengan Fidel Castro, seraya bersiasat untuk membebaskan negeri Kuba dari diktator Batista. Maka, tak ada pilihan lain kecuali memenangi revolusi!

Barangkali, nama Che Guevara tak terus mengudara apalagi melegenda, jika aksi revolusionernya selalu tertumbuk pada kekalahan. Tapi, bersama Castro, dengan melakukan gerakan revolisioner lewat taktik gerilya dan didukung oleh masyarakat kelas petani Kuba, Che beroleh kemenangan dengan gemilang. Kemenangan, yang sudah tentu membanggakan. Karena kemenangan ini, ia bahkan dianugerahi status sebagai warga negara Kuba. Namun, kemenangan ini sekaligus menghadapkannya pada tantangan baru, bagaimana membawa Kuba keluar dari jerat kemiskinan dan ketertundukan dari negeri asing.

Pasca kemenangan revolusioner Kuba, sebenarnya, merupakan fase menarik di mana kita seharusnya memandang Che Guevara secara kritis dari sisi manapun. Tapi, buku ini menegaskan sosok Che sebagai seorang gerilyawan tulen. Seorang sosok yang patriotik lantaran panggilan moral dan nurani. Tidak lebih. Sebab itu, walau sempat sedikit disinggung, kegagalan konsep ekonomi Che demi mempercepat capaian idustrialisasi di Kuba tak diulas panjang-lebar.

Toh memang, keberadaan Che sebagai seorang gerilyawan yang kemudian juga berhasil men-teorisasikan perihal gerilya itu, layak dihargai tinggi-tinggi. Selain melakukan tur demi menghimpun kekuatan negeri-negeri underdevelop, selama di Kuba Che Guevara sukses menelurkan buku The War of Guerrillas dan sebuah esai, Notes for the Study of Cuban Revolution Ideology. Namun, bagaimanapun kita harus mengkritik kegagalan Che dalam keterlibatannya dengan pemberontakan di Bolivia pada 1967. Satu yang tidak terjawab oleh buku ini, mengapa, berbeda halnya dengan yang terjadi di Kuba, petani-petani di pedalaman Bolivia tak mendukung para gerilyawan, hingga Che kalah dan menutup cerita kepahlawanannya di sana?

Buku ini, sekali lagi, memang menampilkan Che bak hero. Atau, jika boleh saya menyebut analogi lain yang mungkin setara dengan cara pandang buku ini, Che adalah seorang aktivis pejuang yang berlaku seperti koboi, sebagaimana dibayangkan Soe Hok Gie. Koboi yang datang kala masyarakat butuh bantuan melawan perusuh. Koboi yang kemudian pergi ketika perusuh telah dituntaskan.

Walau begitu, ilustrasi yang memikat dan dengan menggunakan bahasa yang renyah dan agak gaul, cukuplah bagi sang pemula untuk mulai mengenali Che. Paling tidak, mereka tak perlu asing dengan sosok yang terpampang pada oblong yang mungkin mereka kenakan, tanpa harus menjadi ideologis seperti Che. Selebihnya, mereka mesti menelusuri referensi yang lebih serius dari ini!

Advertisements

One thought on “Mengenal Che Bukan Cuma Dari Oblong

  1. andreas

    Buku Perang Gerilya Tan Malaka dan Che Guevara

    semoga bermanfaat..

    Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.
    (sumber Tempo)

    Dalam bentuk tanya jawab Tan Malaka di dalam bukunya Gerpolek menjelaskan itu secara gamblang. Menurut Malaka GERPOLEK adalah perpaduan (Persatuan) dari suku pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Lebih lanjut dalam bentuk tanya jawab Malaka menjelaskan sbb :

    Apakah gunanya GERPOLEK?

    GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!

    Siapakah konon SANG GERILYA itu?

    SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri, seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.
    SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya, Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya kemerdekaan 100 %.

    SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap. Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA, bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh ataupun maut.

    Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme.

    ————-

    Selain berhubungan cukup erat dengan Panglima Sudirman pimpinan gerilyawan yang tangguh (bahkan Adam Malik menyebutnya Dwitunggal), sebenarnya Tan Malaka pernah terlibat langsung dalam medan perang gerilya menjelang kematiannya. Silahkan baca liputan Tempo Persinggahan Terakhir Lelaki dan bukunya serta Misteri Mayor Psikopat. Sehingga sebenarnya lengkaplah Tan Malaka yang berperang dengan kata, organisasi, juga ‘perang senjata’. Atau bisa dikatakan Gerpolek bukan hanya teori baginya, tetapi juga sebuah praktek perjuangan yang dilakukannya.

    Dalam konteks ini saya setuju dengan ketika Harry Poeze mempersandingkan Tan Malaka dan Che Guevara. Walau saya agak terganggu ketika Poeze mengatakan Tan Malaka adalah Che Guevara Asia. Bagi saya Tan Malaka adalah Tan Malaka, Che Guevara adalah Che Guevara.

    Sekedar memperbandingkan buku perang Gerpolek dan Esensi Perang Gerilya yang dituliskan oleh Che Guevara, saya kutipkan bagian tulisan Che Guevara tersebut

    “Perang Gerilya, sebagai inti perjuangan pembebasan rakyat, mempunyai bermacam-macam karakteristik, segi yang berbeda-beda, meskipun hakekatnya adalah masalah pembebasan. Sudah menjadi kelaziman–dan berbagai penulis tentang hal ini menyatkannya berulang-ulang—bahwa perang memiliki hukum ilmiah soal tahap-tahapnya yang pasti; siapapun yang menafikannya akan mengalami kekalahan. Perang gerilya sebagai sebuah fase dari perang tunduk dibawah hukum-hukum ini; tapi disamping itu, karena aspek khususnya, sudah menjadi hukum yang tak hukum yang tak terbantahkan dan harus diakui kalau mau mnedorongnya lebih maju. Meskipun kondisi sosial dan geografis masing-masing daerah (country) menentukan corak atau bentuk-bentuk khusus suatu perang gerilya, tapi ada hukum umum yang harus dipatuhi jenis tersebut.

    Tugas kita kali ini adalah menggali dasar-dasar perjuangan dari jenis (corak) ini, aturan-aturan yang harus di ikuti oleh rakyat yang berupaya membebaskan diri, mengembangkan teori atas dasar fakta-fakta, menggeneralisasikan dan memberikan struktur atas pengalaman tersebut agar bermanfaat bagi rakyat lainya.

    Pertama kali adalah menetapkan : siapakah pejuang dalam perang gerilya ? Disatu sisi ada kelompok penindas dan agen-agennya, tentara profesional (yang terlatih dan berdisiplin baik), yang dalam beberapa kasus dapat diperhitungkan atas dukungan luas dari kelompok-kelompok kecil dari birokrat, para abdi kelompok penindas tersebut. Disisi lain ada populasi bangsa atau kawasan yang terlibat. Adalah penting menekankan merupakan sebuah perjuangan massa, perjuangan rakyat. Gerilya, sebagai sebuah nukleus bersenjata, merupakan pelopor perjuangan rakyat, dan kekuatan terbesar mereka berakar dalam massa rakyat. Gerilya hendaknya tidak dipandang sebagai inferior secara jumlah dibanding tentara yang ia perangi, meskipun kekuatan persenjataannya mungkin inferior. Itulah sebabnya mengapa perang gerilya mulai bekerja ketika kau memiliki dukungan mayoritas, sekalipun memiliki sejumlah kecil persenjataan yang dengan itu kau mempertahankan diri melawan penindas.

    Oleh karena itu pejuang gerilya mendasarkan diri sepenuhnya pada dukungan rakyat di suatu area. Ini mutlak sangat diperlukan. Dan di sini dapat dilihat secara jelas dengan mengambil contoh kelompok-kelompok bandit yang bekerja di suatu daerah. Mereka memiliki semua karakteristik dari sebuah tentara gerilya : Homogenitas, patuh pada pemimpin, pemberani, pengetahuan tentang lapangan dan seringkali bahkan memiliki pemahaman lengkap tentang taktik yang harus digunakan. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak adanya dukungan dari rakyat, dan tidak terhindari lagi kelompok-kelompok bandit itu ditangkap atau dihancurkan oleh kekuatan pemerintah.”

    ———
    Akhir kata silahkan membaca lebih jauh Gerpolek, Massa Aksi dan buku-buku Tan Malaka lainnya untuk mengerti lebih jauh perkakas perjuangan rakyat yang digagas dan dipraktekannya, juga silah tengok lebih lanjut buku-buku Che Guevara yang sudah cukup banyak beredar di pasaran atau silah kunjung tulisan Che Guevara Online

    Salam Pembebasan

    Andreas Iswinarto

    untuk link tentang tan malaka dan che Guevara silah akses Buku Perang Tan Malaka dan Che.

    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-perang-tan-malaka-dan-che-guevara.html

    atau

    Untuk 34 artikel-opini (edisi khusus Tempo) dan 13 buku online Tan Malaka silah kunjung Tan Malaka : Bapak Republik Revolusi Merdeka 100 Persen
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s