Mengenang Kartini Lagi


RA KartiniRiwayat Kartini, seperti yang saya tulis di sini, memang penuh paradoks dan ironi. Tulisan-tulisan Kartini juga banyak memuat anakronisme; suatu hal yang bisa dipahami mengingat dia cuma perempuan berusia duapuluhan (saat ia mulai menulis) yang hanya lulusan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri.

Saat peluangnya belajar ke Eropa pupus sudah, dengan tulus ia meminta kepada pemerintah kolonial agar mengalihkan beasiswa untuknya kepada seorang pemuda Sumatera yang cakap dan pandai tapi kekurangan biaya. Ironisnya, pemuda Sumatera yang dikemudian hari kita kenal sebagai H. Agus Salim, justru menolak tawaran beasiswa tersebut. Bagi Salim, beasiswa itu tak lebih sebagai pernyataan belas kasihan yang menyedihkan, selain sebagai strategi kolonial untuk mengkampanyekan keberhasilan politik etisnya.

Tetapi saat menjadi istri Bupati Rembang itulah Kartini justru bisa merealisasikan sebagian cita-citanya untuk menyediakan pengajaran bagi perempuan bumiputera. Sang Suami memang dikenal sebagai bupati yang sudah berpikiran maju dan mendukung ide-ide Kartini. “Saya mengucap syukur, membiarkan saya dibimbing oleh seorang yang ditunjukkan oleh Allah Yang Mahakuasa menjadi kawan saya seperjalanan menempuh hidup…,” tulisnya kepada keluarga Abendanon. Lupakah Kartini pada ucapan telengasnya tentang perkawinan paksa dan poligami dahulu? Entahlah.

Tapi kisah tragis belum tuntas sampai di situ. Saat sedang berbahagia menjadi istri kesekian lelaki yang berpikiran maju, lelaki yang mendukung sebisanya cita-cita dirinya, Kartini harus menjalani kodrat biologisnya sebagai perempuan: mengandung, lalu melahirkan. Dan, petaka itu pun datang: lima hari setelah melahirkan, Kartini pupus, selamanya pergi meninggalkan Jawa yang ia cintai sekaligus ia benci “setengah mati-separuh hidup”.

Meski begitu, zaman ini memang layak memberinya hormat, sebuah standing ovation yang tulus. Bukan untuk kehebatannya, tapi untuk sebuah “keyakinan yang dipercayai dan kemudian ia perjuangkan”, sekalipun ia mengerti betapa tak terkira hambatan dan kesukaran yang akan dihadapinya.

Ia tahu benar, di Jawa masa itu, perempuan sungguh-sungguh terbenam di titik subordinasi yang paling rendah. Ikhtiar untuk mengentaskannya tentu butuh waktu panjang, dan maha sukar. Tapi ia tetap melangkah. Ia seakan lantang teriak: “Harus ada yang memulai pengajaran bagi perempuan bumiputera, dan itu adalah saya, seorang perempuan bumiputera juga!” Di situ, Kartini sudah bicara tentang kewajiban perempuan bagi kaumnya.

Pernah suatu hari, seorang pejabat kolonial menyayangkan kenapa Kartini seorang perempuan, padahal jika lelaki ia bisa berbuat lebih banyak. Kartini tampak marah besar. Bukan apa-apa, sebab bagi Kartini, “Pada mulanya dan pada akhirnya, saya memang seorang perempuan. Lengkapnya perempuan Jawa yang tertindas.”

Memikirkan hal itu, saya Ingat Simone de Beauvoir. “Jika saya ingin mendefiniskan diri,” tulis Beauvior di risalahnya yang termasyhur, Second Sex, “hal pertama yang harus saya katakan: Saya adalah seorang perempuan!”

Karena semua alasan itulah kita dengan senang hati merayakan kelahirannya, juga segala jerih-payah yang telah ditorehkannya; sebuah torehan kerja yang membikin Pramoedya, lewat Panggil Aku Kartini Saja, memberi Kartini predikat sebagai “Pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin”.

Advertisements

9 thoughts on “Mengenang Kartini Lagi

  1. neng oCHa

    pertamaxx!!saya paling suka pas bagian pak pejabat kolonial menyayangkan kenapa kartini wanita dan kartini marah karenanya….

    menurut saya, apa salahnya dg wanita? tanpa wanita si pejabat itu ndak akan ada di dunia ini…

    mungkin si pejabat itu menyayangkan kartini yang kritis tapi ia hanyalah wanita kali yha….

    entahlah….tapi seandainya nggak ada kartini, mungkinkah ada wanita2 lain yang memperjuangkan kaum kami??

    Reply
  2. Pingback: Ratapan Raden Ajeng Kartini « M Shodiq Mustika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s