Sepucuk Surat Dari Ibu


Saya menerima surat itu beberapa tahun silam. Sebuah surat yang ditulis dengan tangan oleh Ibu sebelum saya berangkat ke Jogja untuk memulai hidup baru sebagai mahasiswa. Surat tersebut diselipkan secara diam-diam ke dalam tas yang saya bawa ke Jogja. Menjadi satu dengan beberapa potong pakaian dan buku-buku.

Saya baru membaca surat itu setelah tiba di Jogja. Surat tulisan tangan Ibu sebanyak 2 lembar halaman folio itu berisi do’a, nasihat, harapan dan permintaan maaf. Nasihat agar saya tidak mudah putus asa. Doa dan harapan agar ilmu saya bermanfaat dan bisa hidup mandiri. Permintaan maaf jika beliau tidak bisa memberi bekal yang cukup selama kuliah.

Mata saya berkaca-kaca ketika membaca surat tulisan tangan dari Ibu. Badan serasa bergetar hebat setiap membaca kata demi kata pada disurat tersebut. Barangkali itulah salah satu surat paling “dahsyat” yang pernah saya baca.

Surat tersebut seakan bernyawa dan hidup. Ia seakan menjelma menjadi sosok Ibu yang sedang mengajak saya berbicara. Dengan bahasa yang sederhana surat tersebut berhasil membuat saya berpikir dan terpaku. Dalam kesederhanaan bahasa dalam surat tersebut tersimpan keindahan dan kekuatan yang luar biasa.

Selesai membaca surat tersebut, saya pun berjanji dalam hati: saya harus bisa mandiri, dan tidak mudah putus asa seperti yang diamanatkan oleh Ibu. Dan keajaiban pun mulai bekerja. Entah bagaimana caranya, selalu ada jalan setiap kali saya berada dalam kesulitan. Setiap mengingat isi surat tersebut, saya seakan memiliki stamina dan energi tak terbatas. Surat tersebut berhasil membuat saya bangkit dari berbagai macam keterpurukan dan kesulitan.

Tuhan telah menguatkan saya melalui surat 2 halaman folio yang di tulis oleh ibu. Dan akhirnya saya sadar bahwa doa, nasihat dan harapan Ibu dalam surat tersebut bagaikan bahan bakar api semangat yang tak kunjung padam.

Barangkali Ibu sudah lupa pernah menulis surat yang luar biasa kepada saya. Tapi saya tidak pernah ingin melupakan surat tersebut sepanjang hidup saya. Jika surat 2 halaman folio dari Ibu sangat penting, dan memberi banyak inspirasi, bagaimana dengan kisah perjalanan hidup Sang Penulis yang sudah berusia 60 tahun tersebut bagi saya? Jawabnya sudah pasti PENTING pangkat triliyunan….!!!

Advertisements

2 thoughts on “Sepucuk Surat Dari Ibu

  1. mursid

    semoga ibunda diberi kesehatan dan panjang umur ya mas..
    biar beliau nantinya bangga melihat apa yang kita inginkan tercapai..
    Amiin..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s