Cuma Mimpi Pembebasan


Judul Buku : Dalam Bayangan Lenin; Enam Pemikir Marxisme dari Lenin
sampai Tan Malaka

Penulis : Franz Magnis-Suseno
Penerbit : Gramedia Pustaka, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2003
Tebal : xx + 264 halaman
Di lembar awal abad XX lalu, ada seseorang yang tanpa ragu-ragu membumikan gagasan Marxisme. Vladimir Illych Ulyanov namanya. Berbekal tekad dan keyakinan yang tertancap kukuh kepada ajaran itu, sosok yang masyhur dengan nama Lenin itu punya maksud membebaskan penghisapan manusia oleh manusia. Namun, ia (mungkin) tak bakal pernah mengira. Ia justru ciptakan negara paling bengis dan paling berdarah yang pernah ada di muka bumi: Union of Soviet Socialists Republics.


Oktober 1917, negara itu diciptakan. Tidak main-main, untuk membangun landasannya saja, jutaan manusia dipaksa tumpas. Anehnya, tak hanya kaum borjuis. Para petani dan buruh tak pula luput tercatat sebagai tumbal dalam senarai panjang yang konon ditutup-tutupi. Penyumbang nyawa terbesar, bahkan.

Lantas muncul tanya mendesak: bagaimana ideologi revolusioner pembebas manusia usungan Lenin, yang nyatanya melahirkan sistem penindasan totaliter sedemikian kejam sepanjang sejarah, itu punya daya pesona nan memikat bagi pemikir-pemikir cerdas dan tanpa pamrih semacam Leon Trotsky, Georg Lukacs, Karl Korsch, Antonio Gramsci, dan Tan Malaka?

Di buku ini, Magnis-Suseno memberi dua titik terang yang bisa menjawab teka-teki sejarah itu. Pertama, situasi bengis ini adalah akibat dari penyelewengan bentukan Stalin. Kritik ini bermula dari argumen Trotsky. Stalin, di mata Trotsky, “…adalah tipe diktator yang akan memanfaatkan segala kesempatan untuk menjadikan diri seorang Tsar Merah, yang mirip dengan Ivan the Terrible 400 tahun sebelumnya” (hlm. 239).

Argumen ini beroleh dukungan utama dari kalangan Marxis-Leninis kritis, yang sebagian besar hidup di negara-negara komunis. Bagi mereka, konsepsi Lenin teramat beda ketimbang eksekusi yang diambil Stalin. Lebih jauh, Stalinisme divonis tak lagi sebagai perkembangan yang sah dan logis dari Leninisme. Stalinisme ibarat jurang gelap Marxisme-Leninisme. Di situ ada hantu penguasa haus darah bernama Stalin yang bertahta di atas bangkai jutaan proletar.

Kebengisan itu jelas lain dengan para korban di belakang Lenin pada tahun-tahun pertama pasca Revolusi Oktober. Mereka yang mati karena peristiwa berdarah itu dianggap sebagai ekses-ekses “komunisme perang”, di mana kekuasaan Soviet yang belia masih penuh ancaman.

Kedua, Magnis-Suseno menganggap bahwa menjelmanya Soviet menjadi penjara kemanusian disebabkan oleh sistem yang dibangun oleh Lenin sendiri. Seruan yang terlontar dari nyaris semua ahli non-Marxis ini bercermin dari fakta obyektif: tak satu pun negara komunis di seluruh belahan bumi yang menunjukkan wajah manusiawi!

Fakta ini memang tak dapat dimungkiri. Adalah tanggung jawab Lenin, bersama Trotsky, yang membuka jalan menuju kediktatoran partai yang lantas berujung pada kediktatoran Stalin setelah dengan paksa mengambil alih tampuk pimpinan tertinggi Partai Komunis Soviet, terlepas dari kehendak untuk mewariskannya ke tangan Trotsky yang dicap lebih setia dan lebih manusiawi.

Alasan Lenin mendirikan kediktatoran partai jelas: menyelamatkan Revolusi Oktober. Perwujudan partai ini, menurut buah pikir Lenin, punya posisi terpenting dalam situasi panas kurun itu. Sebab, “Perjuangan spontan proletariat akan menjadi ‘perjuangan kelas’ sungguh-sungguh selama perjuangan itu dipimpin oleh sebuah organisasi kaum revolusioner yang kuat” (hlm. 15).

Artinya, lewat telunjuk partai, semangat revolusioner kelas pekerja dapat terjaga dan dijauhkan dari bujukan para reduksionis yang bersikeras agar perjuangan para buruh terbatas hanya pada bidang ekonomi tanpa perlu bersangkut-paut dengan urusan sosial-politik. Kalau partai sudah mencengkeram total para buruh, yang memang tidak matang perihal kesadaran maupun intelektual, maka jebakan kaum borjuis yang kerap berselimut Marxisme dapat dikikis habis.

Terlepas dari kebengisan tanpa tanding itu, berkat tangan besi Lenin-lah Marxisme dengan mantap menjelma menjadi kekuatan politik revolusioner paling utama abad XX dengan wadak bernama Komunisme. Tanpa Lenin, ideologi perjuangan yang termaktub dalam ajaran Marxisme dapat ditakdirkan: terkungkung di tataran wacana. Lantas, tidak keliru tatkala para ideolog Soviet menyebut Marxisme-Leninisme sebagai ideologi yang melandasi Komunisme.

Kendati Franz Magnis-Suseno memusatkan kajiannya pada inti gagasan Leninisme, yakni ihwal partai kader revolusioner serta kediktatoran proletariat, catatan-catatan dari lima tokoh pemikir besar Marxis abad XX lainnya turut pula direkam dalam ini buku. Simak saja kedigdayaan nama mereka. Dari mulai Leon Trotsky, Georg Lukacs, Karl Korsch, Antonio Gramsci, hingga Tan Malaka.

Sebagai pengagum Marxisme, keenam tokoh ini punya keunikan ketimbang para pemikir Marxis sebelumnya: mereka sungguh-sungguh mengalami dan aktif terlibat dalam revolusi kaum buruh. Trotsky memimpin dewan buruh dalam Revolusi 1905 dan Oktober 1917; Lukacs menjadi menteri dalam pemerintahan revolusioner di Hongaria di 1919; Korsch aktif mempersiapkan revolusi komunis yang gagal di Turingen, Jerman; Gramsci melawan fasisme di Italia; serta Tan Malaka sebagai aktor di balik layar penyulut perjuangan Indonesia menentang imperialisme.

Yang pasti, kelima tokoh itu adalah pengagum setia Leninisme (sebelum dikodifikasi dan dibakukan Stalin tentunya). Dan lagi, mereka merupakan pemikir kreatif dan bebas. Bukan demi propaganda garis partai, mereka mempersembahkan gagasannya karena yakin akan apa yang ingin mereka sampaikan. Begitupula, kelima tokoh tanpa pamrih itu punya nasib tragis yang serupa pula: disingkirkan oleh negara yang dibelanya.

Advertisements

One thought on “Cuma Mimpi Pembebasan

  1. Pingback: Piano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s