Hikayat Kekerasan


Kobaran api suci dari langit itu turun menghampiri salah satu kurban yang dipersembahkan. Pertanda pilihan Tuhan sudah ditetapkan. Menyaksikan itu, Qabil tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Kurbannya ditolak. Persembahan saudaranyalah, Habil, yang dipilih. Dan seperti dijanjikan ayah mereka, Adam, siapa yang kurbannya dipilih, dialah yang berhak mengawini Iqlima, sang gadis impian yang diperebutkan.

Kekecewaan tumbuh jadi dendam, berbuah rencana jahat. Ditambah hembusan godaan Iblis, lengkaplah sudah untuk jadi kisah pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia. Qabil, dengan kekecewaan yang mendalam dan dendam yang menggumpal, membokong Habil, menghantam kepalanya dengan batu.

Kutipan cerita itu, yang saya pulung dari ingatan masa kecil ketika membaca buku sejarah nabi-nabi, membuat saya mengerti bahwa ternyata kekerasan usianya setua manusia itu sendiri. Sudah sejak generasi kedua, pertumpahan darah terjadi.

Mungkin karena itu, manusia sudah sangat akrab dengan kekerasan. Seakan hidup tak lengkap tanpanya. Maka jika ada yang bertanya, adakah satu masa dalam sejarah di mana kekerasan tak hadir. Saya khawatir, jawabannya tak ada. Kini bahkan kekerasan dijual sebagai komoditas. Dan laku. Lihat saja betapa lembar-lembar koran, berita-berita radio, hingga gambar bergerak di layar kaca dipenuhi warna merah, darah. Ah, lagipula apa yang tak dijual sekarang.

Lalu, kenapa kekerasan terjadi? Sejatinya, apa akarnya? Jawabnya rumit. Mungkin ekonomi. Mungkin kekuasaan. Mungkin seks. Atau mungkin racikan semuanya ditambah yang lain-lain. Singkatnya: kepentingan. Dan tentu saja manusia dan kehidupannya tak bisa dipisahkan dengan segala ragam kepentingan. Ya ekonomi, ya kekuasaan, ya seksual, ya lain sebagainya. Dan payahnya, manusia tak hidup sendirian. Ia, dengan segala kepentingannya, tinggal di bumi yang sama dengan banyak manusia lain yang juga membawa kepentingannya masing-masing. Payahnya lagi, hanya ada satu bumi yang jelas terlalu kecil untuk menampung lingkaran-lingkaran kepentingan manusia yang kian luas saja.

Tepat di irisan lingkaran-lingkaran kepentingan inilah konflik bermula. Dan mereka yang tak cukup sabar untuk bicara baik-baik (atau dalam bahasa Habermas, dengan komunikasi yang rasional) akan mendesakkan lingkar kepentingannya ke wilayah orang lain dengan kekerasan. Cara yang mudah, memang. Dan efektif. Jika kuat, buat apa bersusah payah melakukan kontestasi yang rasional?

Atau jangan-jangan kekerasan berakar jauh dalam hakikat manusia dan sejarah itu sendiri, seperti yang dinubuatkan banyak pemikir. Herakleitos, sang filsuf Yunani kuno, pernah mengatakan bahwa perang, kekerasan yang maha kekerasan itu, adalah penggerak sejarah. Tanpa perang, yang tersisa hanyalah kemacetan. Atau untuk yang lebih modern, bisa disebut Thomas Hobbes yang terkenal dengan rumusannya tentang masyarakat manusia homo homini lupus, atau bellum omnium contra omnes. Maka kelahiran orang-orang seperti Stalin dan Hitler adalah suatu kewajaran.

Dan, lagi-lagi payahnya, kekerasan sangat pandai bersolek, menyembunyikan borok kepentingan dan menampilkan wajah yang suci. Ia tak hanya absah, tapi juga jadi kewajiban. Suatu kali, ia muncul dengan make-up agama. Maka jadilah kekerasan sebagai jihad, perang suci. Kali lain, ia muncul atas nama keunggulan etnis. Atau sebagai balas dendam, kekerasan yang sah dari sang korban. Atau sebagai perlawanan atas ketertindasan. Tapi wajah yang menyeringai di balik segala topeng dan dandanan itu tetaplah sama: kekerasan.

Padahal, sekali saja kekerasan dipantik, lahirlah lingkaran setan kekerasan yang tak mudah diputus. Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan yang lain. Siklusnya adalah kekerasan-dendam-kekerasan baru-dendam baru… dan begitu seterusnya. Untuk memutusnya, diperlukan orang-orang yang tak termakan oleh dendam. Dan orang macam ini jarang kita temui.

Saya tersedot kembali pada ingatan yang lain tentang keberatan para malaikat ketika Tuhan hendak menciptakan manusia, “Tidakkah Engkau hanya akan menciptakan makhluk yang menciptakan kerusakan dan pertumpahan darah?” Tuhan menjawab, “Aku lebih tahu ketimbang kalian.” Entah apa maksudnya. Mungkin Ia memang menyelipkan hikmah di balik semua ciptan-Nya. Juga kekerasan.

Dan tampaknya, kekhawatiran para malaikat itu menjadi kenyataan. Pertanyaannya, setelah sekian lama, sudahkah kita mengetahui hikmah di balik itu? Mungkin ya: bahwa kekerasan harus ditinggalkan! Tapi, memang, mengetahui tidak sama dengan memahami. Dan kini kita menyaksikan munculnya Qabil-Qabil modern berbondong menyebar kekerasan. Di Iraq, di Ambon, di Bosnia. Atau dalam diri kita sendiri.

Advertisements

One thought on “Hikayat Kekerasan

  1. Pingback: Kekerasan (lagi?) | Seorang Blogger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s