Harga Pengetahuan


“Aku adalah hamba orang yang mengajariku satu huruf,” demikian Ali putra Abu Thalib pernah berkata, suatu kali. Tentu saja ia tak pernah benar-benar jadi budak. Ia orang merdeka, bahkan kemudian menjadi salah satu dari empat khalifah pengganti Nabi, mertuanya.

Mungkin Ali hendak mengatakan bahwa pengetahuan itu berharga. Begitu berharga sehingga untuk satu huruf-pun, seseorang harus menjadi budak untuk membayarnya. Dengan diajari sehuruf pengetahuan, seseorang patut kehilangan kebebasan—sesuatu yang sangat berharga; menjadi budak yang harus selalu mematuhi titah sang tuan bahkan, jika dikehendaki, bisa dijual. Secara matematis, kira-kira begini persamaannya: satu huruf pengetahuan=kebebasan.

Atau jika Anda lebih terbiasa menghitung sesuatu dengan uang, cari tahu berapa harga budak belian waktu itu, dan kalikan dengan jumlah huruf pengetahuan yang Anda pelajari dari orang lain. Sejumlah itulah biaya yang harus dibayarkan padanya. Maka bisa dibayangkan berapa banyak yang musti kita bayar untuk berhuruf-huruf pengetahuan yang kita pelajari dari orang lain—sebutlah guru, dosen, ustadz, suhu, atau apapun.

Tapi rasanya Ali tak sedang menetapkan tarif pengajaran. Juga bukan tengah mengajari kita rumus menghitung gaji guru. Toh ia sendiri tak pernah jadi budak. Maka cukup aman rasanya jika saya menganggap Ali tak memaksudkan ucapannya itu difahami secara harafiah. Lagi pula perbudakan memang lazim dipraktikkan kala itu. Dan mungkin karena itulah ia memilihnya sebagai analogi. Pesannya tentu saja tetap sama: ilmu pengetahuan itu berharga. Dan saya menyepakatinya.

Baiklah, pengetahuan itu penting. Artinya, kita harus mencari dan mendapatkannya. Persoalannya, bagaimana mencarinya. Dalam literatur epistemologi klasik Cartesian, pengetahuan hanya dapat diperoleh sendiri melalui upaya individual, baik secara rasional maupun empiris. Pengetahuan berdasar informasi dari orang lain sama sekali tak diberi ruang. “Mengetahui, sama halnya mendesain sebuah bangunan, harus dikerjakan oleh satu orang,” demikian Descartes, “jika tidak, hasilnya akan berantakan.”

Tapi, berapakah pengetahuan kita yang tak berasal dari atau dengan bantuan orang lain. Sangat sedikit, pasti. Bahkan nama sendiripun kita tahu dari orang lain, orang tua kita. Karenanya, belakangan mulai dikembangkan teori pengetahuan yang lebih realistis: epistemologi sosial, yang juga mengakui keabsahan pengetahuan berdasar informasi dan otoritas orang lain. Dan, memang begitulah kenyataannya. Sepanjang sejarah, manusia mendapat bagian terbesar pengetahuannya dari orang lain.

Jadi, kalau pengetahuan penting dan berharga, maka pendidikan sebagai jalan memperolehnya juga sama penting dan berharganya. Sampai di sini logikanya masih baik-baik saja. Tapi, setelah melihat dunia sehari-hari, rasanya memang ada yang aneh. Entah bagaimana riwayatnya, pendidikan begitu saja disebangunkan dengan sekolah—formal, tentu saja. Yang lebih membingungkan, pendidikan malah identik dengan selembar kertas yang disebut ijazah.

Saya bukan penganjur de-schooling, dan tak sedang melarang Anda sekolah. Saya sendiri sekolah. Dan benar, di sekolah saya mendapat pengetahuan. Meski tak selalu, memang. Kadang di luar sekolah-lah saya mendapat lebih banyak pengetahuan. Justru karena itu ada yang keliru dengan menyamakan begitu saja pendidikan dengan sekolah, apalagi selembar ijazah. Seakan-akan yang tak berbekal lembaran ijazah adalah mereka yang tak berpendidikan. Dan tak tahu apa-apa.

Advertisements

One thought on “Harga Pengetahuan

  1. lovepassword

    Konsep sekolah itu sebenarnya pengganti orang tua. Dulu yang namanya pendidikan itu ya yang ngajarin orang tua. Cuma karena pengetahuan itu semakin berkembang, kesibukan masyarakat juga makin tinggi sehingga nggak sempat dan nggak mampu lagi mendidik anaknya sendiri maka berkembanglah konsep sekolah itu. Arti sekolah itu sendiri ya belajr atau menggunakan waktu untuk bbelajar. Jadi ini nggak ada urusannya sama gedung, sama ijazah, dll.

    Konsep pendidikan direduksi menjadi model sekolah yang sekarang itu memang konsep kebablasen yang dikritik banyak pakar pendidikan luar sekolah.

    Saya bukan pakar. Tetapi menurut saya ssalah satu penyebab kegagalan dalam pendidikan termasuk kegagalan masyarakat adalah karena adanya dikotomi sekolah non sekolah yang nggak baik. Di satu sisi anak sekolah dipandang terlalu tinggi, ekpectasi pemerintah dan masyarakat terlalu tinggi padahal ternyata mereka nggak selalu pinter. Dikotomi ini Sekaligus menutup banyak peluang orang yang nggak sekolah yang lebih pinter. Di sisi lain kondisi ini banyak sekali menimbulkan kesombongan intelektual. Banyak lulusan sekolah bangga berlebihan terhadap selembar ijazah. Padahal secara kualitas isinya cuma tong kosong.

    Mau de- skoling atau enggak – itu nggak penting. YAng penting hapus dulu paradigma yang mendikotomikan antara lulusan sekolah dan orang-orang yang nggak sekolah.

    SALAM

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s