Google Chrome Ramaikan Persaingan Browser


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya saya mendapatkan kabar bahwa Google baru saja meluincurkan satu produk terbaru. Namanya Google Chrome, sebuah browser yang diklaim sebagai browser inovatif karena banyak menawarkan banyak feature terbaru. Dengan peluncuran produk ini, maka bisa dibayangkan betapa riuhnya persaingan pasar browser. Beberapa pemain lama yang cukup mapan adalah Internet Explorer (IE) produk Microsoft, FireFox, Safari, Opera, dll. Seperti apakah feature yang ditawarkan oleh Google Chrome untuk menghadapi ketatnya persaingan browser? Berikut adalah review singkat beberapa feature yang jadi andalan Google Chrome:

  • Proyek opensources yang ambisius. Dengan lisensi opensource, memungkinkan bagi siapa saja bereksperimen mengembangkan menambahkan atau mengurangi feature yang sudah ada. Chrome menggunakan mesin rendering Webkit terkenal handal dan teruji seperti yang dipakai Safari di Mac. Dengan peluncuran produk ini, Google seakan ingin meraup semua pasar yang ada yang berhubungan dengan web dan internet. Mulai dari Search Engine, Email, Iklan hingga browser pun kini digarap dengan serius.
  • Tertanam javascript virtual machine V8 yang handal. Tujuan dari penggunaan V8 yang dibangun dari nol oleh tim yang berbasis di Denmark adalah untuk mempercepat proses eksekusi Javascript yang merupakan komponen penting dalam dunia web. Dengan konsep “satu tab satu proses” memungkinkan Chrome mempunyai manajemen memory yang jauh lebih baik daripada browser lainnya
  • Menggunakan Tabs yang unik. Google Chrome menempatkan Tabs Windows-nya di bagian atas address bar. Hal inilah yang menjadikan tampilan Google Chrome menjadi unik karena tidak mengikuti tren yang sudah ada. Meskipun tidak banyak mendongkrak performa, namun cukup inovatif jika dilihat dari sisi Graphics User Interface (GUI)
  • Area address bar dilengkapi feature auto-completion. Dengan feature ini, kita bisa mengetikkan secara langsung alamat web seperti biasa, potongan alamat domain seperti “google”, “yahoo” atau “amazon” dan bisa juga difungsikan sebagai kolom untuk pencarian kata tertentu. Misalnya jika kita mengetikkan “Asia News Update“, maka akan muncul halaman hasil pencarian yang berhubungan dengan kata kunci tersebut. Tidak seperti browser lain yang memisahkan fungsi address bar dan fasilitas pencarian. Fasilitas ini disebut Google Chrome sebagai “OmniBox” yang berasal dari kata “Omni” yang berati “semua” dan kata “Box”. Secara harfiah, Omnibox diartikan sebagai “kotakuntuk semua/multifungsi”
  • Thumbnail Speed Dial. Dengan feature ini, pengguna dengan mudah dapat mengingat dan mengetahui seperti apa tampilan web yang terakhir kali dikunjungi. Cukup sekali klik saat membuka halaman default Google Chrome, user dapat kembali mengingat dan melihat screen shoot halaman yang dikunjungi sebeluimnya
  • Web apps dapat dijalankan dijendela browser tanpa adress bar dan toolbar. Sebenarnya feature ini bukan hal yang baru. Seridaknya Mozilla juga mempunyai proyek serupa yang disebut proyek Prism. Dengan feature ini, user dapat menjalankan aplikasi dengan mengabaikan URL sehingga dapat meningkatkan efektifitas untuk mengurangi phishing attacks
  • Meminimalkan malware dan phishing, Chrome secara konstan akan mendownload alamat-alamat web yang dianggap berbahaya. Google juga menyatakan bahwa apapun yang berjalan di Tabs Chrome kategorikan sebagai sanbox sehingga tidak akan mempengaruhi mesin dan dapat lebih aman.
  • Incognito Mode. Feature ini lebih dikenal sebagai Porn Mode. Dengan feature ini, user dapat mematikan atau merahasiakan catatan history, cookies, file temporary halaman yang pernah dikunjungi. Mode ini biasanya digunakan jika user tidak ingin aktivitasnya terlacak oleh pengguna lain mengingat alasan kerahasiaan dan keamanan. Feature ini sebetulnya sudah diperkenalkan di IE 8

Proyek Google Chrome kelihatannya akan mempunyai masa depan yang cerah karena berbagai faktor. Pertama, didukung sepenuhnya oleh perusahaan raksasa Google. Kedua, berlisensi opensource sehingga memungkinkan semua pihak untuk berpartisipasi. Ketiga, menawarkan banyak inovasi baru yang cukup signifikan dan menjanjikan.

Penilaian personal setelah mencoba Google Chrome selama hampir 3 jam adalah cukup mrnyenangkan. Google Chrome akan semakin meramaikan persaingan Browser yang cukup sengit. Dengan manajemen memory yang lebih baik, Google Chrome menjadi penantang serius bagi browser yang sudah mapan. Meskipun demikian, saya belum berani merekomendasikan Google Chrome sebagai browser pilihan utama, paling tidak dalam waktu dekat ini, mengingat masih memerlukan banyak waktu untuk menguji produk yang baru saja diluncurkan ini.

Kita harus menunggu apakah Google Chrome mampu tetap eksis ditengah ketatnya persaingan antar browser yang makin kompetitif. Selain itu, belum adanya komunitas yang solid dan tersebar diseluruh dunia membuat saya belum berani beralih total dari FireFox ke Google Chrome.

Meskipun didukung sepenuhnya oleh Google, tidak secara otomatis browser ini akan berjaya. Kita pasti masih ingat bagaimana nasib browser netscape navigator yang diera 90-an sangat berjaya tapi akhirnya kolaps.

LINK:

Google Chrome

Komik Google Chrome

Advertisements

8 thoughts on “Google Chrome Ramaikan Persaingan Browser

  1. Lex dePraxis

    Saya agak telat satu hari memakai browser teranyar yang sedang menarik perhatian dunia ini. Dirilis tanggal 2 September kemarin, saya baru mengunduh dan meng-install-nya sehari setelah itu. Cukup menarik sekali untuk melihat software yang masih versi beta ini sudah mampu mendukung berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, walaupun masih terasa aneh dan konyol (bayangkan saja, ada sesuatu yang diberi nama ‘Di bawah terpal’ !!!).

    Sepintas pada visual, ini adalah browser dengan tampilan yang sangat minimalis dan menawan. Saya nyaris tidak bisa melihat tombol atau gambar apapun yang terserak di interface / antarmuka-nya yang berwarna biru langit tersebut. Sepertinya Google benar-benar serius dengan komitmen mereka untuk memberikan keunggulan dalam kecepatan dan ketepatgunaan. Saya sedikit perlu penyesuaian ketika melihat tampilan tab yang agak nyeleneh dibanding dengan browser lainnya, tapi dalam lima belas menit saya sudah jatuh cinta dengan tampilan Google Chrome.

    Sayangnya keunggulan penampilan tersebut masih belum dibarengi dengan kelengkapan fungsi yang memadai. Misalnya saja pada engine blog wordpress saya, http://hitmansystem.com/blog , tidak bisa menampilkan visual rich-text editor. Yang dimunculkan adalah box teks yang perlu di-edit secara html manual atau copy-paste dari dreamweaver atau software sejenisnya.

    Saya pikir, Chrome sangat memerlukan kekuatan komunitasnya untuk menciptakan plugins yang membuat para peselancar dunia maya menjadi kasmaran berat dengannya. Seharusnya tidak perlu waktu lama untuk mereka mulai mengembangkan plugins itu atau istilah mereka ‘gears’ tersebut, tapi saya juga tidak terlalu yakin Chrome akan mengantisipasi banyak gears karena tujuan utama mereka adalah keringanan dan kecepatan.

    Selama ini saya adalah pengguna browser Maxthon yang menurut saya pribadi sangat memuaskan dari segi keringanan, kecepatan, dan keluasan fungsi. Bergantian dengannya, saya juga masih memakai Firefox untuk keperluan mengakses situs yang kaya akan AJAX dan fungsi-fungsi skrip dinamis lainnya (seperti Facebook, Google Reader, atau Meebo) karena di Maxthon hal tersebut masih kurang terakomodasi dengan baik selain perlu loading yang lama. Kehadiran Chrome sepertinya yang serba cekatan menangani skrip sepertinya merupakan penyatuan yang sempurna dari Maxthon dan Firefox. Terbukti saya yang sekarang sudah uninstall Firefox, tertinggal Chrome sebagai default browser yang disusul oleh Maxthon sebagai alternatif yang sampai sekarang masih sulit saya tinggalkan. Perlu waktu yang lama bagi saya dahulu untuk memutuskan pindah dari Firefox ke Maxthon. Ketika saya melihat Chrome, hanya perlu waktu beberapa jam saja.

    Sekalipun demikian, Chrome sepertinya tidak begitu dianjurkan untuk mereka yang menggunakan internet dengan bandwidth terbatas karena sampai saat ini tidak bisa memblok atau menonaktifkan gambar-gambar yang biasanya menyedot resource bandwidth. Akibatnya, berselancar dengan Chrome akan menghabiskan biasa yang cukup besar. Situs-situs populer di Indonesia seperti Detik.com, Kaskus.us, HitmanSystem.com, Okezone.com, ataupun manca negara seperti MSN.com dan BoingBoing.net memiliki begitu banyak materi gambar yang akan terasa merampok peselancar yang menggunakan dengan limited bandwidth.

    Bagi saya, ada dua fitur yang paling menarik dari Chrome. Yang pertama adalah Incognito Window. Ini adalah ide mungil yang cukup cerdas; saya sangat terkejut Google mengantisipasi kebutuhan ini dengan serius, sampai-sampai dimunculkan sebagai mekanik tersendiri dalam browser mereka. Fitur kedua adalah Omnibox yang membuat segala sesuatunya lebih singkat dan lancar. Jenius!

    Google telah menyewa seorang komikus untuk mengerjakan komik pendek yang bisa dibaca di sini. Saya adalah penggemar Scott McCloud lewat karyanya Understanding Comics, jadi saya memiliki harapan yang tinggi untuk hasil kerjasamanya dengan Google ini. Sayang sekali, komik Chrome tidak berhasil memuaskan harapan tersebut, karena penyampaiannya yang masih terasa kaku, prematur dan tidak serius. Anyways, pengguna Chrome, atau malah pencinta Chrome, rasanya akan tetap menikmati karya tersebut sebagai tutorial mekanik dari masa depan sebuah browser.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s