Balas Dendam


PermenIni cerita beberapa tahun silam ketika saya masih kuliah di Jogja. Salah satu mini market yang paling sering saya datangi adalah toko Pamor (sekarang berubah nama jadi Gading Mas) di jalan Kaliurang. Satu yang paling bikin jengkel tiap kali membeli barang disana adalah masalah uang kembali. Mereka dengan seenaknya memberikan uang kembalian yang nilainya di bawah 500 perak ditukar dengan permen. Sugus, Relaxa, dll

Setelah sekian lama, saya baru nyadar, bahwa uang kembalian berupa permen sudah sangat banyak. Kalau di hitung2 hampir setara dengan 30ribu rupiah. Lumayan lah buat menuhi kaleng di kamar. Suatu hari, karena lagi bokek, uang jajan tinggal 10ribu, sementara kebutuhan tidak bisa ditunda untuke beli sabun, sampo dll. Perkiraan saya, cukuplah bawa uang 10 ribu.

Setelah mantap, segera meluncur ke TKP untuk membeli sabun dll. Setelah berhasil menemukan semua barang yang diperlukan, segera saja saya meluncur ke bagian kasir:

Saya: (sambil membawa barang belanja, berdoa semoga tak lebih dari 10rb). Berapa mbak?

kasir: bentar mas. (kasir mulai sibuk menghitung dengan alat yang sudah di lengkapi barcode)

kasir : (setelah semua beres) Total Rp 8.775

Saya : Bentar ya mbak (segera rogoh kantong siap ambil dompet dan menyerahkan 1 lembar uang 5000 + 3 lembar uang kertas 1000 + 2 uang logam 500. Total Rp 9000,-)

Kasir : Waduh mas, nggak ada kembaliannya. Uang kembaliannya diganti permen aja ya. (si Mbak penjaga kasir sudah siap2 ambil beberapa permen buat kembalian)

Karena merasa jengkel tiap kali belanja di sini selalu dapat permen dan uang saku sudah menipis, akhirnya dengan raut muka cemberut saya menolak kalau uang kembalian di tukar permen. Sudah terlanjur jengkel karena tiap kali ke toko ini sering dapat kembalian berupa permen

saya : Nggak usah permen Mbak. Bosen tiap tiap kali kesini kembaliannya permen terus. Sebentar mbak… (buka-buka tas dan menemukan sekantung permen dibungkus plastik kecil transparan, jumlahnya skitar 15an). Ini permen kebanyakan dari sini. Ini saya mo kembalikan

Kasir : (tampak kaget dan bingung)

saya : Tolong balikin yang seribu, ini sisanya yang 775 (sambil menyodorkan permen dalam kantong plastik)

Mbak penjaga kasir tampak makin bingung. Belum sempat dia bereaksi, saya curi kesempatan untuk mengambil satu uang ribuan yang masih tergeletak di depan meja kasir. Si Mbak penjaga kasir protes dan tidak mau menerima pembayaran dalam bentuk uang “permen”. Jelas saya tidak mau mengalah. Demi uang seribu rupiah, ditambah uang yang sudah mepet, saya ngotot tetap membayar sisa pembelian dengan permen.

Saya : Bla…bla…bla…

Kasir : bla…bla…bla…

Saya : Ba…bi…bu…

Kasir : Bu…bi…ba……

Setelah beberapa saat, akhirnya Mbak penjaga kasir nyerah dan menerima satu kantung permen sebagai alat pembayaran. Rasanya puas banget karena akhirnya saya mengembalikan permen ke sumbernya.

Beberapa hari kemudian, saya kembali lagi ke toko itu untuk membeli kertas. Dan kebetulan yang jaga adalah Mbak yang sama. Raut muka si Mbak penjaga ini tampak aneh, kurang bersahabat, ketika melihat saya berdiri didepannya sambil menyerahkan barang-barang yang saya beli.

Kasir : (setelah sibuk dengan alat barcode) Total 19.850

Saya : Gak usah mrengut mbak, permenku kemarin sudah habis. Saya bayar pakai duit. (segera saya sodorkan uang pas senilai Rp 19.850. Tidak kurang tidak lebih lengkap dengan pecahan Rp 50,-

Kasir : (nyengir getir). Terimakasih

Advertisements

3 thoughts on “Balas Dendam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s