Jalan-jalan ke Kota Solo part #1


Cukup kaget ketika melihat postingan terakhir di blog ini tertanggal 22 Agustus 2010. Wow… 5 bulan tidak update blog. Keren kan? Mengaku bloger tapi tidak update blog lebih dari 5 bulan adalah sebuah prestasi (setidaknya bagi saya).  Sebagai pembuka kembalinya saya di jagad blog (halah…), saya akan memulai dari cerita BAGIAN PERTAMA jalan-jalan ke Solo selama 2 hari lalu.  Silakan disimak…

RBI (Rumah Blogger Indonesia)

Sabtu 22 Januari 2011, saya berangkat dari Semarang menuju Solo naik bis umum jam 2 siang. Ini adalah perjalanan pertama saya menggunakan Bus antar kota setelah 2-3 bulan silam. Dan ternyata, jalur bus yang biasanya melewati MILO sekarang sudah dialihkan ke banyumanik. Yup, cukup merepotkan karena harus menuju banyumanik yang jauh.

Sampai di Solo jam 16:30 langsung menuju ke rumah suadara di Pabelan Kartosuro. Setelah istrirahat secukupnya, segera meluncur ke Rumah Blogger Solo, mabes Komunitas Blogger Solo BENGAWAN. Diluar dugaan, RBI yang biasanya ramai hanya menyisakan MURSID sang Sekjen dan beberapa teman TALENTA yang belum terlalu saya kenal. Mursid akhirnya pulang karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.

Sementara itu, HASAN sang Presiden Bengawan sedang tidak ngantor di RBI. Kabarnya terakhir sedang bertapa di Kopi Tiam-nya Pak Bondan dan tidak bisa menemani. “Wah bakal jadi malam minggu kelabu nih… Jauh-jauh ke Solo ternyata tak ada kawan di Komunitas Bengawan yang menemani… PRAHARA…TERLALU….!!!”, batin saya.

Beruntung di RBI ada fasilitas internet dengan kecepatan 1 Mbps yang disupport oleh salah satu provider telekomunikasi. Koneksinya Wuzzz…wuzzz…wuzzz….!!! Mantab…!!! Meskipun ada koneksi yang kenceng, rasanya ada yang kurang, yaitu tidak ada teman ngobrol petang itu. Bikin nglangut karena RBI petang itu sepi penghuni. Setelah termenung beberapa saat, saya memutuskan, jika sampai jam 8 malam tak ada kawan Bengawan di RBI, saya bertekad keliling Kota Solo sendiri dengan resiko tersesat 🙂

Penculik dan Guide

Waktu menunjukkan jam 19:30 ketika ANEG, salah satu satpam Bengawan datang ke RBI. Cukup melegakan karena akhirnya ada kawan anggota Bengawan yang bisa diajak mengobrol. Setelah berbincang-bincang beberapa saat akhirnya saya diculik Aneg berkeliling dan menikmati Kota Solo di malam hari.

Jujur, malam itu saya tidak punya tujuan jelas mau kemana karena kurang referensi mengenai Kota Solo. Dengan berkunjung ke home base BENGAWAN saya berharap bisa bertemu teman yang bersedia menjadi GUIDE. Tentu saja yang lebih utama adalah silaturahim dan kopdar antar sesama pecandu internet

Nasi Liwet Yu Yanti

Tujuan pertama penculikan: mengisi perut yang sejak siang belum terisi. Saya dilarikan menuju Nasi Liwet Yu Yanti di Jalan Slamet Riyadi.  Nasi Liwet adalah makanan khas Kota Solo. Yang spesial dari Nasi Liwet adalah nasinya yang pulen, suwiran ayam, sayur labu dan disajikan dengan pincuk daun pisang. Tak lengkap rasanya berkunjung ke Solo tanpa mencicipi Nasi Liwet yang sudah terkenal.

Night Market Ngarsopuro

Selesai makan nasi liwet, saya di ajak Aneg menuju Ngarsopuro, semacam night market yang menjajakan oleh-oleh khas Solo. Disana anda bisa berbelanja: Kaos Etnik design “Solo” banget, kerajinan tangan, mainan tradisional, dll untuk oleh-oleh.

Pasar Ngarsapuro berlokasi di sepanjang Jl. Diponegoro yang menghubungkan antara citywalk Jl. Slamet Riyadi dengan Kompleks Mangkunegaran. Beberapa ornamen dan topeng dipasang di sepanjang jalan disekitar Pasar Ngarsopuro membuat suasana terasa unik.

Suhu udara Solo malam itu ternyata cukup dingin. Untungnya di Ngarsopuro juga ada penjaja makanan. Kami singgah sebentar untuk menghangatkan badan dengan minum wedang ronde (salah satu minuman favorit saya) dan Cabuk Rambak.

Wedang Ronde dan Cabuk Rambak

“Wedang” dalam Bahasa Jawa berarti “minuman”. Sedangkan Ronde adalah adonan khusu yang terdiri dari campuran tepung beras dan gula merah berbentuk bulatan-bulatan dan dibagian dalamnya berisi kacang yang dihancurkan. Untuk membentuk Wedang Ronde, adonan ronde ini dicelupkan ke dalam air jahe yang masih panas. Rasanya sangat nikmat, dan mampu menghangatkan tumbuh saat suhu udara dingin.

Cabuk rambak adalah makanan khas Solo yang terbilang cukup langka dan hanya bisa dijumpai di daerah-daerah tertentu. Kata Aneg, Cabuk adalah semacam adonan ampas wijen yang telah diambil minyaknya. Cabuk rambak disajikan dengan pincuk (daun pisang yang dilipat) dan ketupat dipotong-potong kecil dan diatasnya dibubuhi cabuk. Sangat cocok jika makan Cabuk rambek dengan karak atau biasa disebut dengan krupuk gendar. Rasanya? Gurih… pedas… pokonya enakkkk…. !!!

Alun-alun dan Festival Sekaten

Selesai menikmati suasana Night Market Ngarsopuro dan ngicipi Wedang Ronde dan Cabuk Rambak, lagi-lagi saya digelandang Aneg menuju tempat lain. Kali ini menuju Alun-ALun Kraton Solo. Ternyata di sana ada acara SEKATEN. Kata Sekaten berasal dari istilah agama Islam, Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Ritual untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dimeriahkan berbagai pertunjukan dan pasar rakyat yang memasarkan souvenir dan kerajinan tangan lainnya.

Di Sekaten, saya naik Bianglala setinggi kurang lebih 10 M. Saat berada di posisi puncak, saya bisa menebarkan pandangan secara leluasa ke sekeliling untuk melihat “peta” alun-alun dan festival Sekaten. Sayang sekali, malam itu hari pertama festival Sekaten. Jadi masih banyak area di alun-alun yang kosong dan pengunjung belum terlalu ramai.

Pertunjukan Wayang Kulit

Puas berkeliling di festival Sekaten, kami mengalangkahkan kaki menuju sebuah tempat pementasan Wayang Kulit yang tak terlalu jauh dari Alun-Alun. Sayangnya, kami datang agak terlambat dan kurang paham alur cerita wayang yang sedang dipentaskan. Dari pengamatan sekilas, ternyata cukup banyak yang menonton. Kami kesulitan mencari tempat duduk untuk berbaur dengan penonton lainnya. Terpaksa kami hanya bisa menikmati pertunjukan Wayang Kulit sambil berdiri.

Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 22:00. Itu artinya saya sudah diculik  selama 2,5jam.  Memulai perjalanan dari RBI, menikmati lampu-lampu kota di sepanjang jalan Kota Solo yang indah. Kemudian makan Nasi Liwet yang gurih dan mengenyangkan. Wedang ronde yang menghangatkan, dan Cambuk Rambak yang lezat.  Dan pengalaman pertama naik Bianglala setelah puluhan tahun di  Sekaten dan menonton pertunjukan Wayang Kulit merupakan pengalaman yang sangat unik dan menarik.

Semoga cerita “Semalam di Solo” ini bisa memberikan gambaran singkat tempat-tempat yang layak untuk dikunjungi jika anda berada di Solo. Sebenarnya masih ada banyak hal yang terlewatkan seperti Kraton Surakarta, kampung Batik Laweyan, Komplek Sriwedari, Galabo, Pasar Antik Triwindu, dll. Mudah-mudah bisa menuliskannya di Blog ini.

NB: Foto-foto akan segera dilengkapi

Advertisements

10 thoughts on “Jalan-jalan ke Kota Solo part #1

  1. Pingback: Tweets that mention Jalan-jalan ke Kota Solo part #1 -- Topsy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s