Cinema Paradiso, Sebuah Review Singkat


Alfredo: ” Living here day by day, you think it’s the center of the world. You believe nothing will ever change. Then you leave: a year, two years. When you come back, everything’s changed. The thread’s broken. What you came to find isn’t there. What was yours is gone. You have to go away for a long time… many years… before you can come back and find your people. The land where you were born. But now, no. It’s not possible. Right now you’re blinder than I am.”

Jika Anda penggemar film, saya yakin anda akan memberi respek yang tinggi kepada film berjudul CINEMA PARADISO. Film Italia produksi tahun 1988 ini pernah meraih penghargaan OSCAR kategori Film Asing terbaik 1989.  Hampir semua unsur dalam film ini sangat memikat: cerita, pemeran, sinematografi, musik, dll sangat luar biasa.

Cinema Paradiso adalah sebuah film yang sangat menyentuh dan emosional. Mengangkat tema pencarian jati diri seorang Salvatore “Tito” di Vita sejak anak-anak hingga dewasa melalui kecintaanya pada film dan persahabatan dengan Alfredo (ahli proyektor di biokop Cinema Paradiso). Cerita yang ditampilkan sederhana namun sangat kuat serta mampu menyentuh berbagi aspek kehidupan mulai dari pershabatan, romantisme, kenangan, kedewasaan, pencarian jati diri, kepedihan, dll. Sangat komplet namun berimbang.

Film ini berlatar pada akhir perang dunia ke II, disebuah kota kecil bernama Giancaldo, di Sisilia, Italia. Salvatore kecil atau yang lebih sering dipanggil Toto adalah seorang bocah yang lugu, lucu dan cerdas. Toto kecil sangat menyukai film dan hampir setiap hari ia selalu menghabiskan waktunya untuk menonton film secara gratis yang diputar di sebuah bioskop kecil dikotanya yang disebut Cinema Paradiso.

Bermula dari bioskop kecil itulah Toto kecil bersahabat dengan ahli proyektor bioskop bernama Alfredo. Mulanya Alfredo menganggap Tito adalah anak kecil pengganggu kerja, namun setelah ia melihat kecintaan Tito pada film sikap Alfredo sedikit demi sedikit mulai berubah. Ia mulai memperbolehkan Tito untuk melihat film dari ruangan proyektor, bahkan Tito pun akhirnya diajarkan untuk mengoperasikan proyektor dan menggantikan peran Alfredo menjadi ahli proyektor setelah terjadi kebakaran yang membuat Alfredo buta. Tito yang waktu itu berusia 7 tahun adalah satu-satunya warga kota yang mampu mengoperasikoan proyektor film

Banyak sekali adegan yang masih terekam jelas hingga sekarang. Salah satu adegan paling saya kenang adalah bagian penutup. Jika anda mengikuti film ini dari awal hingga akhir, anda akan mengalami perasaan yang luar biasa menyentuh. Di bagian awal film, diceritakan bahwa semua film sebelum di putar di bioskop CINEMA PARADISO harus di SENSOR oleh pihak gereja. Semua adegan ciuman atau yang dinilai tidak bermoral di potong dan dibuang. Salvatore kecil sangat ingin memilikinya, namu Alfredo melarangnya karena merasa belum cukup umur

Tapi, diam-diam Alfredo, menyimpan semua potongan adegan ciuman dalam film selama puluhan tahun dan disatukan kembali menjadi satu film baru. Setelah Alfredo meninggal, potongan-potongan film yang sudah disatukan tersebut diwariskan kepada SALVATORE, sahabat kecilnya yang punya kegemaran menonton film dan punya kenangan yang mendalam bersama.

Selama hampir 5 menit, penoton dimanjakan dengan adegan FRENCH KISS dari potongan-potangan film yang disusun oleh Alfredo. Ditambah dengan alunan musik Theme Song yang bagus, adegan tersebut terasa sangat luar biasa. Penasaran seperti apa Theme Song-nya? Silakan buka Video di bawah. Ya… Lagu Theme Song Cinema Paradiso pernah dinyanyikan oleh Josh Groban saat perayaan Natal tahun 2002 di Gereja Vatikan…!!!! Keren banget dan menyayat…!!!

Cinema Paradiso jelas adalah salah satu film drama terbaik dan favorit yang pernah saya tonton. Sebuah film yang mampu membuat saya terhanyut dengan kisahnya yang luar biasa. Meskipun sudah melihat berkali-kali, saya sama sekali tidak pernah bosan melihatnya. Yang saya ingat, pertama kali saya menonton film ini 9 tahun silam, bertepatan dengan pergantian tahun baru 2001 – 2002.

Advertisements

One thought on “Cinema Paradiso, Sebuah Review Singkat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s