Sandal dan Harga Diri


Sudah bukan rahasia jika saya gemar memakai sandal terutama sandal jepit. Saking seringnya memakai sandal jepit, kaki saya bahkan ada bekas yang sangat jelas terlihat. Kebiasaan memakai sandal sudah saya lakukan sejak kecil. Bahkan ketika duduk di bangku sekolah, saya sering memakai sandal jepit saat jam istirahat atau di dalam kelas jika memungkinkan.

Alasan utama saya memakai sandal karena praktis, nyaman dan tidak ribet. Tapi entah mengapa ada orang yang tidak suka melihat orang memakai sandal. Komplain paling sering yang saya dengar adalah masalah kesopanan. Mereka bilang, memakai sandal adalah bentuk dari sikap tidak sopan, tidak horma, menurunkan harga diri dll.

Saya pun bingung. Atas dasar apa dan sejak kapan posisi sandal menjadi begitu hina? Bahkan bisa mempengaruhi harga diri dan martabat seseorang? Saya kira sudah terjadi sikap diskriminatif. Sama-sama alas kaki, sama-sama kena tahi ayam dan kotoran tapi martabat sandal kalah mentereng dengan sepatu. Bukti paling nyata adalah ada profesi tukang semir sepatu, tapi belum pernah saya mendengar ada profesi tukang bersihkan sandal.

Mereka, kaum pembenci sandal, lebih menghormati laki-laki bersepatu yang memakai jas tapi terpidana kasus korupsi daripada pria bersandal dengan kaos oblong yang berjualan nasi goreng tapi tidak jelas apa kesalahannya. Anda akan dipandang sebelah mata jika datang bertemu klien dengan kaos oblong dan sandal. Nilai jual diri anda akan turun drastis jika datang ke acara kondangan dengan menggunakan sandal.

Meskipun terbukti menikmati hasil korupsi, Imelda Markos masih mempunyai martabat yang tinggi karena mempunyai koleksi ratusan pasang sepatu. Ia dinobatkan sebagai Ratu Pengoleksi Sepatu dan dipuja banyak orang di dunia. Dan saya kira, Anda akan merasa terhina jika memperoleh gelar Ratu atau Raja Sandal Jepit

Salah satu cara agar martabat dan harga diri tidak jatuh terpelanting memakai sandal, terutama sandal jepit adalah harus menjadi orang super kaya seperti Bob Sadino, tokoh terkenal dan pejabat tinggi berkarisma seperti Gus Dur. Jika belum masuk kategori tersebut, jangan harap harga diri tetap tinggi jika terlalu sering memakai sandal.

Advertisements

4 thoughts on “Sandal dan Harga Diri

  1. bangjo

    sehari2 ketemu klien lebih suka bercelana pendek & bersandal, kadang justru bikin suasana lebih akrab…
    coba kalo pas kuliah juga boleh begitu.. 😐

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s