Sapa Hangat Einstein kepada Anak Dunia


Judul : Dear Professor Einstein, Surat-Menyurat Einstein dengan Anak-anak.
Editor : Alice Calaprice
Penerjemah : Bogie Soedjatmiko
Penyunting : Haris Priyatna
Penerbit : Kaifa
Cetakan : I, November 2003
Tebal : 252 halaman

Seorang anak dari benua hitam menulis surat kepada Einstein. Ia menceritakan kegilaannya terhadap astronomi. Setiap malam ia bersama temannya harus berjingkat melewati ruang pengawas menuju sisi lain gedung asrama agar bisa melakukan pengamatan gugus-gugus bintang. Ia tidak berharap banyak untuk bisa menyita waktu sang ilmuwan. Satu bulan kemudian datang surat balasan Einstein. Ia menulis surat lagi menjelaskan betapa senang perasaannya, karena mendapat tanda tangan ilmuwan cemerlang itu.


Demikian cerita tentang surat yang ditulis Tyffanny, gadis kecil dari Afrika Selatan, kepada Einstein. Albert Einstein, fisikawan kesohor sangat menyukai anak-anak. Kedekatannya dengan anak-anak terungkap lewat surat-surat yang dikirim kepadanya dan ditulisnya untuk anak-anak. Kepeduliannya untuk selalu berusaha membalas surat dari anak-anak menunjukkan kalau dirinya tidak diragukan lagi memiliki kedekatan dengan makhluk yang sering dianggap sebagai miniatur orang dewasa. Tidak seperti kebanyakan orang dewasa—mungkin termasuk ilmuwan besar lainnya—yang seringkali mengabaikan keberadaan anak-anak. Bahkan tidak jarang tidak menyukai anak-anak.

Surat-menyurat dengan anak-anak selalu saja menarik, terutama jika surat-surat tersebut ditujukan kepada seseorang yang sangat terkenal. Di dalamnya terdapat kepolosan, kejujuran, dan kelucuan anak-anak. Seperti surat yang ditulis seorang anak bernama Ann, gadis kecil umur 6 tahun. ”Saya pikir bapak harus potong rambut supaya kelihatan lebih rapi”. Demikian sarannya. Ada pula surat dari Sam di Virginia Barat. Dalam suratnya, ia berdebat dengan temannya yang mengatakan bahwa Einstein akan menjadi gila, karena semua genius yang dulu-dulu juga gila. Namun, anak kelas 2 SMP ini tidak setuju dengan temannya. Hingga ia pun menulis surat itu.

Pertanyaan-pertanyaan mereka sangat beragam. Seperti apakah para ilmuwan suka sembahyang, ihwal astronomi, anggapan bahwa Einstein tokoh kartun yang fiktif, imajinasi tentang kue pembuat genius, ucapan cepat sembuh, dan perdamaian dunia juga mengemuka dalam surat anak-anak itu. Mereka pun dengan berani mengajukannya secara langsung, lugas, dan tanpa takut-takut kepada Einstein. Laiknya menyurati seorang sahabat pena dibandingkan kepada seorang ilmuwan besar.

Einstein tidak sekadar menjawab surat-surat yang dialamatkan kepadanya. Ia juga memberikan penjelasan atas pertanyaan seputar fisika dan relativitas, saran, kebersamaan dalam belajar, sampaikan salam hangat perdamaian ke seluruh dunia. Semuanya dijawab-tuliskan dengan kerendahan dan kemuliaan hati seorang yang tidak pernah menganggap dirinya ilmuwan besar. Melalui salah satu dari surat-surat terakhirnya, ditulis sekitar tiga minggu sebelum kematiannya, Einstein pun secara ajek berlaku rendah hati dengan menganggap kado (surat-surat) anak-anak kepadanya merupakan saran yang baik bagi masa depan.

Einstein memperlihatkan kualitasnya sebagai orang dewasa yang bisa bergaul dengan anak-anak. Ia mampu memahami mereka dengan bahasanya. Ia juga tidak menyamakan anak-anak tersebut dengan masa kanak-kanak di zamannya. Uniknya, ia tidak menganggap dirinya seorang genius. Ia tidak sekalipun menyebut karya besarnya. “Ia hanya membicarakan hal-hal yang bisa kami mengerti,” tulis seorang anak tentang diri ilmuwan itu. Dengan logika roti, sapi dan susu, ia dengan lugas menjelaskan matahari sebagai sumber kehidupan.

Perhatian Einstein terhadap anak-anak disebabkan karena ia tinggal terpisah dari anak-anaknya. Menjelang Perang Dunia I, ia tinggal di Berlin, sedangkan anaknya, Hans Albert, dan istrinya, Mileva, di Zurich. Satu-satunya cara berkomunikasi yang mereka lakukan—dan paling mungkin pada waktu itu—selama berjauhan adalah dengan bersurat-suratan. Einstein menulis dengan kehangatan dan perhatian seorang ayah. Ia ingin menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa mereka memiliki seorang ayah yang dekat dan mencintai mereka. Kebiasaannya menulis surat juga ia lakukan dengan cucunya hingga ia meninggal.

Buku kecil berjudul Dear Professor Einstein ini memuat lebih dari 60 surat dari anak-anak—beberapa dari orang dewasa yang mewakili anak-anak—di seluruh dunia. Dari Jerman, Afrika Selatan, Belanda, sampai Puerto Rico. Tapi kebanyakan berasal dari anak-anak Amerika pada saat Einstein tinggal di Princeton, New Jersey. Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto Einstein dan keluarga dalam berbagai aktivitas hidupnya dan beberapa teks asli surat yang ditulis anak-anak kepadanya.

Lewat buku kecil ini, Einstein telah menunjukkan sisi lain dari kehidupan ilmiahnya sebagai seorang ilmuwan melalui surat-menyuratnya dengan anak-anak, yakni kecintaannya terhadap anak-anak. Ia adalah pribadi dewasa yang sejati, yang di dalam hatinya masih terdapat jiwa kanak-kanak

Advertisements

One thought on “Sapa Hangat Einstein kepada Anak Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s