Susupun Bisa Menjajah


Konsumsi susu bayi di masyarakat kita dari tahun ke tahun cenderung meningkat. repotnya, peningkatan konsumsi itu lebih banyak dipengaruhi oleh efek iklan dan pemasaran daripada pemahaman mengenai kesadaran kesehatan yang bersifat kritis.


Heboh penemuan Enterobacter sakazakii pada susu formula bayi oleh para peneliti dari IPB beberapa waktu lalu semestinya mengingatkan kita pada beberapa hal substansial berkaitan dengan susu.

Pertama, kandungan gizi yang terkandung dalam susu olahan, apalagi yang berbentuk powder, hampir sepenuhnya mitos. setelah melewati berbagai proses pengolahan, kandungan gizi dalam susu tidak lagi signifikan. protein dan kalsium dalam susu, misalnya, setelah beberapa tahap pengolahan, akan berubah menjadi kapur.

Kedua, susu olahan sebenarnya tak berbeda dengan junk-food. jika dianalogikan, berbagai nutrisi yang ada dalam susu tak ubahnya seperti sekerat daging dalam impitan burger. maslahatnya lebih kecil daripada mudharatnya.

Ketiga, konsumsi susu bayi di negara-negara dunia pertama sebenarnya bisa dikatakan rendah, apalagi di negara-negara Eropa seperti di Skandinavia. mereka lebih suka memberi ASI daripada mempercayakan anaknya kepada susu binatang. apalagi, di beberapa negara Eropa, misalnya, tidak ada cuti hamil. sebagai gantinya, mereka memberlakukan cuti punya anak, dan itu berlaku baik untuk ibu maupun bapak. lamanya bisa setahun dengan gaji dibayar penuh. jelas, mereka lebih suka mengekspor susunya daripada memberikannya kepada anak-anak mereka sendiri.

Keempat, jangan bayangkan kenaikan konsumsi susu di negeri kita bersifat menyejahterakan para peternak di boyolali atau pangalengan, sebab 80% susu yang diolah di pabrik-pabrik susu kita adalah produk impor (sebagian besar dari Selandia Baru). pemerintah kita hanya meregulasi kandungan lokal sebesar 20% saja, selebihnya ya impor. kasus susu kurang lebih sama dengan industri tempe, dimana kandungan kedelai impor rata-rata 60-70%.Kelima, konsumsi susu bukanlah keharusan, melainkan hanya bersifat suplementer. doktrin empat sehat lima sempurna selama ini agaknya telah ditafsirkan secara keliru. susu bukanlah nutrisi pokok.

Berbagai alasan di atas sangat jelas menunjukkan bahwa susu bukan hanya berisiko secara kesehatan (peningkatan kasus obesitas pada anak balita dalam satu dekade terakhir dipacu oleh kenaikan laku mengkonsumsi susu), melainkan juga ekonomi politik. konsumsi susu hanya menyedot devisa dan memakmurkan petani-peternak negara lain daripada berlaku sebaliknya.Oleh karena itu, bagi para pasangan muda, atau calon bapak-ibu, jangan biasakan anaknya mengkonsumsi susu formula. jika kita ingin anak kita cerdas, perbanyak saja konsumsi protein dan vitamin via sayur, buah, dan ikan-ikan segar, terutama ikan laut.

Ya, beruntunglah orang-orang pantura di jawa barat, bisa makan sea food dan dedaunan tiga kali sehari…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s