Ramadhan dan pelajaran yang berharga


Ramadhan seharusnya identik dengan ibadah. Karena gagal dalam pengendalian diri, bulan suci Ramadhan malah memicu tingkat konsumerisme tinggi. Setidaknya inilah yang saya alami pada Ramadhan kemarin. Berikut adalah hasil evaluasi pribadi saya selama bulan Ramadhan tahun ini.

Tes I: Biaya komunikasi

Biaya komunikasi yang saya maksud adalah biaya komunikasi menggunakan telepon. Untuk mengevaluasi, saya membandingkan total pengeluaran selama bulan puasa hingga H+7 libur lebaran dengan pengeluaran rata-rata selama 4 bulan terakhir sebelum puasa. Hasil perhitungan saya untuk tes ini sekitar 12% lebih tinggi dari pengeluaran rata-rata.

Tes II: Tagihan Listrik

Dengan metode yang sama saya melakukan tes kedua: tagihan listrik. Hasil perhitungan saya adalah penggunaan listrik cenderung meningkat. Dugaan saya ini terkait dengan jadwal kerja dan tidur yang berubah. Selama puasa, saya sangat jarang tidur sebelum jam 3 dinihari. Untuk membunuh waktu, biasanya saya menggunakan komputer untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, atau hanya menonton TV.

Tes III: Aktifitas berinternet

Kebetulan saya merupakan pelangga internet volume based. Setelah saya bandingkan ternyata penggunaan internet saya sekitae 20% lebih tinggi dari biasanya. Ini tentu sangat terkait dengan beban kerja saya yang yang meningkat selama puasa. Selama puasa, ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Tes IV: Biaya Transportasi

Untuk biaya transportasi, bisa dikatakan hasil tes yang saya lakukan tidak berbeda jauh dengan rata-rata. Hanya berselisih kurang dari 5% dari nilai rata-rata. Jadi bisa disimpulkan bahwa biaya transportasi tidak signifikan bagi saya.

Tes V: Biaya Makan

Meskipun berpuasa, ternyata saya tidak mengalami penurunan berat badan. Hal ini disebabkan selama Ramadhan saya cenderung mengkonsumsi makanan yang “lebih bergizi” untuk menjaga kondisi tubuh. Akibatnya, meskipun tubuh saya tetap sehat, tapi harus mengeluarkan biaya ekstra untuk kebutuhan energi dan gizi bagi tubuh. Kesimpulannya, terjadi pemborosan karena sikap paranoid saya

Tes VI: Biaya lain-lain

Biaya lain-lain ini lebih banyak terserap untuk acara buka bersama, sahur bersama, kopdar, JJS, dan persiapan menjelang lebaran. Seingat saya, setidaknya ada lima kali saya mengikuti kegiatan buka bersama, tiga kali sahur bersama, dan berkali-kali acara ketemu dengan teman dan komunitas entah itu acara nonton film, jalan-jalan atau sekadar kongkow-kongkow. Kesimpulannya: terjadi pemborosan untuk kegiatan yang tidak perlu

Setelah dihitung dan dibandingkan, ternyata pada Ramadhan kali ini saya berlaku boros dan konsumtif. Komponen terbesar penyumbang aksi boros saya adalah faktor kebiasaan mengikuti acara buka bersama, sahur bersama, dan kegiatan lain yang over dosis. Dan jelas ini tidak sejalan dengan nilai dari puasa Ramadhan yaitu pengendalian diri. Hal Ini tentu jadi catatan serius sekaligus bahan introspeksi dan koreksi yang sangat berharga. Mudah-mudahan saya masih diberi kesempatan bersua dengan Ramadhan tahun depan untuk memperbaiki diri.

Bagaimana dengan Ramadhan Anda? Semoga Anda tidak terjebak dengan perangkap yang sama dengan saya.

Advertisements

5 thoughts on “Ramadhan dan pelajaran yang berharga

  1. Hayu

    hmm..aku biasa aja tu, ga da yg berubah, kadang emang pengen hedonis, makan enak gitu, tp biasanya buka pake segelas teh panas aja dah langsung kenyang, bakat ga kaya kali ya
    ^_^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s