Perjalanan yang menyiksa


Kemarin, saya benar-benar merasakan perjalanan Jogja-Semarang paling menyakitkan. Salah satu penyakit saya melakukan perjalanan darat dengan angkutan umum adalah selalu terlelap dengan sangat nyaman selama 30-40 menit pertama. Saya sendiri heran dan tidak tahu mengapa sulit menghilangkan penyakit yang satu ini. Probabilitas saya ngantuk pada 30 menit awal skitar 75%!!! Tapi kemarin kejadiannya sangat tidak lazim. Saya hanya bisa terlelap kurang lebih 15 menit disebabkan perasaan tidak nyaman oleh pengaturan AC yang tidak tepat.

Setelah terlelap sekitar beberapa saat, saya mulai terjaga. Bukan perasaan segar seperti biasanya, malah badan saya serasa lunglai, tidak bergairah. Kepala pusing-pusing, perut mual tapi gak bisa muntah, badan bergetar karena gak kuat menahan dinginnya tiupan blower dari AC. Sialan, ini juga salah satu penyakit gawan bayi saya. Kalau tidak cocok dengan settingan udara di ruangan, terlebih yang disebabkan AC, pasti sistem metabolisme saya jadi kacau.

Usut punya usut, ternyata putaran untuk nyetting arah hembusan AC rusak dan langsung mengarah ke ubun-ubun, salah satu bagian tubuh yang sensitif dengan tiupan angin. Perkiraan saya, AC di Bis di setting untuk suhu dibawah 24 derajat Celcius. Hembusannya sangat kencang dan dingin luar biasa hingga menembus kulit. Jadilah segala perasaan gak nyaman langsung mendera sekujur tubuh. Perut jadi kembung dan ada perasaan gak enak diperut. Saya sadar, ini pertanda buruk. Buruk sekali malah

Sebagai penumpang yang bermoral 🙂 dengan terpaksa harus pindah dari tempat duduk. Padahal waktu itu posisi tempat duduk sangat strategis, dekat dengan cewek manis. Ah, sudahlah, daripada harus menahan kentut lebih baik saya merelakan duduk bersebelahan dengan si cewek. Saya pindah ke barisan agak belakang yang sepi penumpang.

Setelah pindah, akhirnya saya bisa dengan leluasa kentut. Brat…bret..brot…cesss…. busss… tuiiitttt :). Saya cuma bisa pasrah, mau bau atau gak saya gak peduli. Daripada saya sakit mending saya buang biang penyakit itu sekalian. Selama dalam perjalanan tersebut mungkin lebih dari 30 kali saya kentut. Bener-bener menjijikkan, tapi mau bagaimana lagi, saya gak punya pilihan lain. Belum lagi kepala yang pusing, dan badan lemas tak berdaya.

Gara-gara AC di Bus yang kacau, akhirnya saya menderita selama perjalanan. Keringat dingin bercucuran dan mulut terasa kecut. Perjalanan selama 3 jam itu terasa sangat lama dan sangat menyiksa. Setelah bis tiba di Banyumanik, segera saja saya loncat dan berlari menuju wc umum untuk menuntaskan segala dendam membara. Untuk menghilangkan lunglai, segera saya menuju warung terdekat. Ditemani segelas teh manis anget, semangkuk bakso akhirnya saya benar-benar bisa merasakan nikmatnya sehat kembali.

Terimakasih Tuhan, engkau telah mengingatkan kembali nikmatnya sehat. Buat pengelola bis Ramayan, mohon segera perbaiki sistem pengaturan udara dan kembalikan uang 35ribu saya plus ganti rugi 1 Milyar karena telah membuat saya tersiksa dan malu.

Advertisements

One thought on “Perjalanan yang menyiksa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s