Tribute to Mbak Jajan


Kaget dan trenyuh. Itulah yang bisa saya rasakan ketika membuka akun FB. Saya menerima kabar bahwa suami Mbak Jajan, penjual makanan kecil yang saya kenal 11 tahun silam sedang terkena musibah. Suaminya dikabarkan meninggal dunia di RS Sardjito. Dengan keterbatasan ekonomi, perawatan yang diperoleh tentu saja jauh dari yang diharapkan. Saya tidak mengenal baik suaminya tapi saya kenal baik dengan Mbak Jajan, penjual makanan kecil yang sering mangkal di komplek perumahan dosen UGM, Bulaksumur

Selama enam tahun lebih kuliah di Jogja, hampir tiap hari saya mampir membeli makanan yang ia jual. Saking seringnya jajan di situ, Mbak Jajan sampai hapal menu apa saja yang saya pesan: Dua nasi bungkus, dua gorengan dan segelas es jeruk disaat siang hari sekitar jam 1 siang. Saya juga hapal betul dimana ia sedang menjual barang dagangannya. Tiap hari, Mbak Jajan berkeliling menggunakan sepeda othel. Berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk menjual makanan kecil

Saya benar-benar merasa banyak berhutang kepada Mbak Jajan. Dulu, ketika tidak punya uang untuk membeli makanan, Mbak Jajanlah yang sering jadi penyelamat. Kasbon gali lubang tutup lubang adalah hal biasa yang saya lakukan. Satu cerita yang akan selalu saya kenang adalah ketika dompet saya hilang. Dengan segala keikhlasan, Mbak Jajan memberi makanan dengan menu seperti biasa secara cuma-cuma. Menu makanan gratis itu diberikan kepada saya selama 4 hari berturut-turut. Saya benar-benar terharu.

Ditengah keterbatasan ekonomi, Mbak Jajan masih bisa menyisihkan sebagian keuntungan yang tak seberapa untuk mahasiswa kere seperti saya. Dan saya yakin, banyak teman di pondok B-21 juga pernah mengalami hal yang sama. Memperoleh bonus makanan gratis atau ngebon dulu jika tidak ada uang di kantong.

Sekarang, di saat Mbak Jajan terkena musibah ternyata saya tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa saya lakukan, hanyalah berdoa dan menitipkan uang yang tak seberapa sebagai ungkapan bela sungkawa. Semoga Mbak Jajan diberi ketabahan dan kekuatan menghadapi ujian.

Ah…. Mendadak Saya jadi kangen merasakan nasi bungkus, tempe goreng dan es jeruk bikinan Mbak Jajan yang menjadi menu langganan hampir selama 6 tahun di jogja

Advertisements

2 thoughts on “Tribute to Mbak Jajan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s