Review Filosofi Kopi


Tanggal 9 April 2015, saya dan beberapa teman yang aktif nyampah di social media memperoleh kesempatan untuk nonton bareng film Filosofi Kopi yang tayang perdana di bioskop Semarang. Jujur saja, saya belum sempat membaca buku Dewi Lestari “Filosoi Kopi” dan tidak punya referensi apapun tentang film ini. Jangankan melihat trailernya, lihat posternya sebelum film tayang saja saya tidak. Benar-benar gak gaul deh… :))

Poster film Filosofi Kopi

Poster film Filosofi Kopi

Waktu menonton film ini, saya benar-benar tidak mempunyai ekspektasi apapun akan sebaik atau sejelek apa nantinya. Daripada kecewa, lebih baik saya tidak terlalu berharap. Yang bisa saya lakukan didalam studio adalah berusaha menikmati film ini senyaman mungkin agar fokus tetap terjaga. Saya tidak akan bercerita detail tentang cerita dalam film ini karena sudah banyak yang menulisnya.

PLUS

Film ini sangat layak ditonton. Bukan hanya oleh penikmat kopi, tapi oleh siapapun juga yang sekadar ingin membuang waktu. Salah satu kekuatan dari film ini menurutku bukan pada siapa pemerannya, tapi pada cerita. Persoalan kopi yang sering dianggap sepele oleh orang ternyata bisa menjadi cerita yang cukup menarik dan sangat serius seperti apa yang dikatan Ben (Icho Jericho) “Gue gak pernah mainmain soal kopi...”

Di film ini saya bisa menemukan passion, trauma, pencarian jati diri hingga politik meski dengan kadar secukupnya. Saya jadi ingat salah satu teman saya yang pernah bercerita tentang ‘penyeragaman’ jenis tanaman pada lahan garapan milik keluarganya. Singkat tapi sangat mengena

MINUS

Jujur saja, saya terganggu dengan peran El dalam film ini. Kesan yang saya tangkap, El dalam film ini hanya diposisikan sebagai bahan jualan film. Saya tidak begitu yakin seorang perempuan cantik seperti El yang modern, stylish, lama tinggal di Prancis, sekaligus sebagai Q Grader Internasional, & food traveler blogger pernah benar-benar mampir ke sebuah perkebunan yang terpencil hanya untuk menikmati kopi.

Saya lebih sepakat seandainya yang pertama kali mengenalkan kopi Tiwus kepada Ben dan Jody adalah seorang yang lebih sederhana. Seseorang yang tanpa embel-embel menyandang gelar apapun. Cukup seorang yang benar-benar hobi minum kopi. Saya kira lebih sesuai dengan karakter kopi Tiwus. Ini hanya pendapat pribadi saya lhooo…

Kesimpulan akhir saya, nikmatilah film ini seperti Anda biasa menikmati secangkir kopi.

Advertisements

3 thoughts on “Review Filosofi Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s