Belajar Sejarah Melalui Film Tjokroaminoto


Saya suka nonton film dengan tema sejarah. Makanya, begitu ada kabar tentang film yang bercerita tentang HOS Cokroaminoto, saya sangat tertarik untuk menontonnya. Apalagi begitu tahu film ini disutradarai oleh Garin Nugroho, salah satu sutradara film terbaik di Indonesia semakin membuat penasaran.

Poster Film Tjokroaminoto

Poster Film Tjokroaminoto

Harus diakui, sosok Cokroaminoto kalah populer dengan Sukarno. Hal ini setidaknya yang berhasil saya tangkap dari obrolan dengan beberapa orang terutama yang berumur di bawah 30 tahun. Dengan mudah orang bisa berpendapat atau bercerita tentang siapa Sukarno, tapi jadi mati kutu ketika diminta pendapat tentang Cokroaminoto yang tak lain adalah ayah mertua sekaligus guru Soekarno sewaktu muda.

Alur Cerita

Secara garis besar film ini mencoba menggambarkan kisah Cokroaminoto, Sarikat Islam dan pergerakanya. Film ini mempunyai banyak latar tempat dan waktu. Seringkali meloncat dari satu latar ke latar lain. Sehingga, bagi yang sama sekali tidak mengenal Cokro, Sarikat Islam dan orang-orang disekitarnya akan ada kesulitan tersendiri dalam memahami alur cerita dan memetakannya. Perlu diingat, bahwa Cokro dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai pengaruh besar bukan hanya pada masanya, tapi juga hingga sekarang. Sebut saja Agus Salim, Soekarno, Semaun, Musso, dll. Jika tidak hati-hati, penonton akan menjadi bingung

Pemeran Utama

Tidak mudah untuk memerankan tokoh besar sekelas Cokro. Begitulah kesan yang berhasil saya tangkap dari penampilan Reza Rahardian di film berdurasi sekitar 160 menit ini. Sesekali dia terkesan sangat tegas, dilain waktu berubah menjadi sangat peragu. Saya mengapresiasi kualitas akting Reza meski informasi tentang pribadi Cokro tergolong masih sedikit. Dengan segala kekurangan tersebut, ternyata Reza masih bisa memerankannya dengan baik. Sebuah tantangan berat harus memerankan tokoh besar yang menjadi guru dan panutan banyak tokoh penting yang dilahirkan oleh negeri ini dengan modal informasi yang sedikit.

Hanya ada satu cara untuk berhijrah. Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, dan semurni-murni siasat

Pemeran Pendukung

Sebagai pemeran Suharsikin (istri Cokro), rasanya Putri Ayudya belum bisa tampil optimal. Salah satu kesulitan terbesar yang dihadapi oleh Putri selain minimnya referensi tentang istri Cokro adalah kendala bahasa. Di film ini saya tidak menangkap logat Jawa Timuran dari Suharsikin. Saya juga kurang bisa menemukan kematangan pada karakter Suharsikin sebagai istri tokoh sebesar Cokro. Untungnya ada Christine Hakim yang berperan sebagai abdi kepercayaan keluarga Cokro. Christine Hakim benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai pemain yang kaya pengalaman dan menjadi pembimbing istri Cokro.

Dari sekian banyak pemain pendukung, saya tertarik dengan pemeran Mbok Tun yang juga merupakan abdi di keluarga Cokro dan Cindil si penjual kursi. Keduanya benar-benar tampil sangat natural dan mampu menarik perhatian setiap kali muncul.

Visual

Tak perlu diragukan lagi, visual di film ini sangat bagus. Saya bisa menangkap kondisi di Pulau Jawa saat itu melalui film ini. Gambaran mengenai kehidupan dan budaya yang berkembang tersaji dengan sangat jelas.

Lainnya

Di film ini, Garin menampilkan Sujiwo Tedjo (ayah mertua Cokro), Maia Estiyanti (Ibu mertua Cokro) dan Chelses Islan (Stella). Penampilan ketiganya sangat menarik. Sujiwo Tedjo dengan logat Jawa Timuran yang khas dan berwatak keras sangat pas memerankan ayah mertua Cokro. Maia Estiyanti yang merupakan cicit Cokroaminoto meski tampil hanya sekilas juga tidak mengecewakan. Saya suka dengan logat dan gaya bicaranya yang thas thes.

Namun, ada pertanyaan besar tentang sosok ibu mertua Cokro. Di film ini, Sebagai seorang perempuan Jawa tulen, hidup di era awal tahun 1900-an istri mertua Cokro sudah piawai memainkan piano

Kalau tanah ini punya pemerintahan sendiri, apakah aku termasuk pribumi ?

Sementara kemunculan Chelsea Islan (Stella) mengingatkan saya akan karakter Annelis di buku Tetralogi Pram. Gadis cantik anak seorang Nyai dengan Belanda tulen yang mengalami kegundahan terkait ketidakjelasan nasibnya yang tidak diakui sebagai warga Belanda dan terasing dengan kehidupan di tanah Jawa. Salah satu adegan yang membuat saya trenyuh ketika Stella dengan gusar bertanya kepada Cokro “Kalau tanah ini punya pemerintahan sendiri, apakah aku termasuk pribumi ?”

Penutup

Meskipun bercerita tentang sejarah dan biografi tokoh besar, menariknya film ini dikemas dengan cara yang lebih santai. Kemunculan beberapa tokoh fiktif seperti Bagong, Cindil, Stella, Mbok Tun dll benar-benar mampu memberi dimensi yang berbeda. Bahwa film bertema sejarah dan berat tidak selalu harus membikin dahi penonton berkerut-kerut.

Buat yang penasaran… silakan lihat trailer film ini sebelum menonton film

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s