Raja Copet


Ini kisah nyata beberapa tahun yang lalu ketika masih kuliah di Jogja. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari Janti ke kos di daerah Klebengan Sleman Jogjakarta. Saya naik bus jalur 7 yang terkenal dengan aksi pencopet yang cukup lihai di jalur bus kota Jogja

Seperti biasa, saya lebih suka memilih duduk di bagian belakang dekat pintu. Dari Janti banyak penumpang lain yang ikut naik. Kebanyakan dari mereka sepertinya pengangguran elit (mahasiswa). Karena capek setelah seharian beraktivitas, saya mulai mengantuk. Selanjutnya saya ambil kacamata hitam di saku jaket yang udah bulukan dan memasang di muka yang tidak terlalu tampan ini. Entah beberapa lama saya sudah terlelap, tiba-tiba kaki saya terasa ada yang menginjak. Dengan ekspresi sepontan saya terbangun dan meracau tak karuan

Saya: wooiii…$%$#^%%&%^….**&*+!@@ (maap terpaksa di sensor)

Tiba-tiba saya melihat dua orang pria tampak kaget begitu mendengar reaksi saya yang spontan sambil misuh-misuh (mengumpat) sekenanya. Saya sendiri tidak ingat kata-kata apa saja yang keluar dari mulut saya. Anehnya setelah saya selesai meracau, kedua orang tersebut tampak kikuk, terdiam beberapa saat dan kemudian menghampiri saya.

Orang I: ” Sory, dab…. ora sengojo ” (Sory dab -mas…. tidak sengaja), kata pemuda yang masih cukup muda dengan rambut gondrong.

Orang II: ” tenang, rak sah nesu-nesu. mengko bagi-bagi koyo biasane” ( tenang, tidak usah marah-marah, nanti kita bagi-bagi seperti biasanya), kata pemuda satunya yang berperawakan sedikit gempal dengan celana pendek.

Setelah selesai ngomong, mereka berdua turun dari bis kota yang saya tumpangi. Hingga beberapa lama waktu, saya masih belum paham maksud kedua orang tersebut tentang kata “bagi-bagi seperti biasanya”. Akhirnya rasa penasaran saya menemuka titik terang setelah seorang penumpang yang duduk di deretan tengah bis tampak panik. Usut punya usut, si penumpang ini ternyata baru saja kecopetan. Dompet, Hand Phone dan entah barang apalagi telah hilang.

Dari obrolan antar penumpang, ternyata ciri-ciri orang yang dicurigai sebagai pencopet sangat mirip dengan dua orang pemuda yang beberapa menit lalu ngobrol dengan saya. Mereka sudah turun dari bis kota kurang lebih 15 menit sebelumnya.

Hahahahaaa….. akhirnya saya menduga maksud kata “bagi-bagi seperti biasanya”. Mereka berdua (para pencopet) mengira bahwa saya seprofesi dengan mereka. Dan, bagi-bagi hasil adalah hal yang lumrah kalau gerombolan copet malancarkan aksi. Analisis prematur saya, mereka para pencopet itu, menganggap saya pencopet beroperasi di jalur 7 bis kota Jogja dan mereka merasa pekewuh karena telah beroperasi di area yang sama.

Huahahahaaaaa…… ternyata saya dulu lebih cocok jadi copet daripada mahasiswa yang sudah karatan!!!!! Dengan muka pas-pasan, bodi krempeng (maklum masih mahasiswa), rambut agak gondrong, jaket plus kacamata cukup bagi saya untuk menyamar sebagai pencopet di bis kota Jogja waktu itu.

Sekarang saya membayangkan, seperti apa kira-kira penampilan copet di Jogja saat ini? Bayangan saya, copet di angkutan umum Jogja sekarang memakai celana jeans, kaos modis, sepatu gaul dan dandanan yang cukup necis agar bisa bergaul dengan calon-calon korban seperti yang saya temui beberapa hari lalu ketika pulang dari sebuah mall di Semarang. Copet yang berhasil diringkus massa berpakaian rapi, masih muda dan necis.

Banyak lagi bukti-bukti di TV dan media massa, bahwa copet kelas tinggi berpenampilan lebih necis dan berkelas. Penipu ini mencopet harta negara bahkan punya mobil dan sopir pribadi. Mereka berdasi, berjas dan bersepatu kinclong. Copet dengan tampang pas-pasan sudah kuno, ketinggalan jaman. Sekarang jamannya copet dengan dandanan rapi dan wangi.

Dan, saya bersyukur sudah diciptakan dengan casing model lama. Itu artinya, peluang saya berkarir jadi copet bisa diminimalkan karena modal tampang yang kadaluarsa. Tidak cocok lagi berprofesi jadi copet jaman sekarang.

Stereotip bahwa copet selalu berpenampilan pas-pasan sudah banyak termentahkan di koran dan media massa lainnya. Copet sekarang lebih parlente dan modis. Maka, jika Anda bertemu dengan orang yang berwajah pas-pasan, ada baiknya Anda tidak selalu berburuk sangka. Justru sekarang harus lebih waspada dengan orang yang berpenampilan rapi, mempesona dan meyakinkan. Barangkali mereka adalah para copet modern yang dibungkus dengan kemeja rapi, sepatu kinclong, bau harum dan pakai pomade…

Advertisements

16 thoughts on “Raja Copet

  1. sofyanr

    kingkong, didut, tyas Hahahaha….. 5 tahun silam memang cocok jadi copet. Kalau sekarang cocoknya koruptor, maklum perut mulai buncit

    Reply
  2. sofyanr

    @ neng ocha : sejuta profesi !!! tukang cuci motor, tambal ban, dll

    @ memble : kapan blogmu di update?? kae nganti sawangen…. !!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s