Konvergensi Media: Jurnalisme dan Content Marketing


Pagi ini saya membaca sebuah artikel di Media Indonesia yang berjudul Nasib Media Daring Suram. Selesai baca artikel tersebut, saya berpikir. Apa iya nasib media online akan sesingkat itu ? Apakah Media Indonesia tidak salah menulis ? Jika porsi iklan yang menurun apa iya akan membunuh bisnis media ?

Sebelum masuk kebagian yang lebih dalam, saya akan menyampaikan beberapa cerita dan fakta yang saya peroleh.

  • Iklan di media cetak turun. Hal ini sudah berjalan beberapa tahun ke belakang. Setidaknya ini yang saya dengar langsung dari salah satu petinggi media cetak di Semarang. Pendapatan dari iklan tak sebanyak 5 atau 10 tahun silam.
  • Sebagai imbas dari iklan yang menurun, maka oplah media cetak juga menurun. Pemangkasan karyawan juga terjadi disana-sini. Beberapa media cetak lokal tutup karena pendapatan tidak bisa menutup biaya operasional.
  • Jurnalis freelance mengeluh karena bayaran yang diperoleh dari perusahaan media tidak kunjung naik. Wartawan tetap juga sama saja, gaji mereka tidak naik.

Selain tiga fragmen cerita tersebut saya menemukan fakta yang tak kalah menarik. Jumlah konten yang diproduksi selama 5 tahun terakhir meningkat sangat signifikan dan makin beragam, namun media dalam tekanan hebat terutama soal menutup biaya operasional.

Kemampuan media untuk membayar jurnalis cenderung stagnan, sementara brand justru lebih berani. Contoh nyata saya temui di Semarang. Sebuah brand berani mengeluarkan puluhan jutaan rupiah untuk mengundang jurnalis, blogger, social media influencer untuk hadir dan meliput peluncuran produk mereka. Disisi lain, perusahaan media tempat para jurnalis bekerja hanya memberikan reward kurang dari Rp 10.000 per tulisan jika dimuat di portal berita yang mereka kelola sendiri. Ironis kan…?

Dari fenomena di atas saya membaca ada pergeseran yang jelas. Dulu, brand menghabiskan dana besar untuk memasang iklan/banner di media. Sekarang mereka mengubah cara promosi dengan memproduksi konten. Ada perbedaan yang jelas dari keduanya. Pertama, dulu brand membayar “iklan” kepada perusahaan media. Kedua, sekarang brand membayar “konten”. Sangat jelas perbedaannya bukan ?

Brand mengurangi biaya pemasangan iklan di media dan mengalihkannya untuk memproduksi konten dengan cara memanfaatkan wartawan, blogger, dan social media influencer lainnya. Dalam hal ini, brand bukan lagi berposisi sebatas pemasang iklan di media mainstream, tapi mengambil posisi sebagai Content Publisher.

Bagi perusahaan media, hal ini menjadi ironis. Media mengeluh karena pemasukan iklan menurun. Sementara di lain sisi, pundi-pundi uang bergeser ke wilayah yang semestinya menjadi kompetensi utama media, yaitu memproduksi konten.

Oke, kita akan masuk pembahasan lebih dalam.

The Content Marketing Institute mendefinisikan content marketing sebagai berikut (silakan terjemakan sendiri ya):

Content marketing is a strategic marketing approach focused on creating and distributing valuable, relevant, and consistent content to attract and retain a clearly-defined audience — and, ultimately, to drive profitable customer action.

Sudah sangat jelas, tujuan utama content marketing adalah untuk menarik dan mempertahankan pelanggan lewat konten. Dalam hal ini, konten bisa berupa teks, gambar, suara, video. Brand akan melakukan berbagai hal agar tujuan mereka tercapai dengan memproduksi banyak konten yang relevan.

Kalau begitu brand sudah mengambil peran sebagai media juga dong..? Terus media kebagian apa… ? Meski tidak 100%, harus diakui brand sudah berperilaku layaknya perusahaan media. Dan gejala ini dari tahun ke tahun makin jelas. Brand berlomba-lomba memproduksi dan menyebarkan konten layaknya perusahaan media.

Sekarang kita jadi saksi bagaimana proses konvergensi antara jurnalisme dan content marketing terjadi. Indikasi kuat terjadinya proses konvergensi oleh keduanya bisa ditemui dengan munculnya beberapa fenomena, antara lain:

  • Brand mulai berperilaku layaknya content publisher. Mereka merencanakan, memproduksi dan menyebarkannya konten yang sesuai dengan brand mereka. Tujuannya jelas, mempengaruhi audiens
  • Konten dari brand memiliki tingkat profesional yang sangat tinggi – dan tak jarang merek mempekerjakan jurnalis profesional untuk menjamin kualitas konten.
  • Munculnya fenomena “branded jurnalism” sebagai sumber pemasukan baru bagi perusahaan media. Mereka bekerja sama dengan brand untuk mengolah isu, event, dll

Saya tidak mengatakan jurnalisme dan content marketing akan melebur jadi satu. Keduanya berada pada dua disiplin yang berbeda. Mereka tidak menjadi satu, tapi beririsan.

Saat ini, media menghadapi tantangan yang serius. Mereka tidak lagi bersaing dengan sesamanya tapi juga menghadapi gempuran dari perusahaan-perusahaan yang mempunyai agenda terselubung. Celakanya, perusahaan-perusahaan ini berani mengeluarkan budget lebih besar untuk memproduksi konten dibandingkan perusahaan media.

Apakah itu berarti bisnis media akan berakhir ? Menurut saya sih keduanya bisa berjalan beriringan. Media bisa membaca fenomena konvergensi media ini sebaga peluang. Perusahaan media dan brand bisa membentuk suatu simbiosi mutualisme. Para jurnalis dan praktisi content marketing bisa belajar satu sama lain bagaimana menyampaikan pesan lewat konten berkualitas agar diterima oleh audiens

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s